7 Langit & 7 Malaikat Penjaga

•January 30, 2011 • 4 Comments

Telah diceritakan oleh Ibnu al-Mubarak tentang seorang laki-laki yang bernama Khalid bin Ma’dan, dimana ia pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal ra., salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw.

“Wahai Mu’adz! Ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang telah engkau dengar langsung dari Rasulullah saw., suatu hadits yang engkau hafal dan selalu engkau ingat setiap harinya disebabkan oleh sangat kerasnya hadits tersebut, sangat halus dan mendalamnya hadits tersebut. Hadits yang manakah yang menurut engkau yang paling penting?”

Kemudian, Khalid bin Ma’dan menggambarkan keadaan Mu’adz sesaat setelah ia mendengar permintaan tersebut, “Mu’adz tiba-tiba saja menangis sedemikian rupa sehingga aku menduga bahwa beliau tidak akan pernah berhenti dari menangisnya. Kemudian, setelah beliau berhenti dari menangis, berkatalah Mu’adz: Baiklah aku akan menceritakannya, aduh betapa rinduku kepada Rasulullah, ingin rasanya aku segera bersua dengan beliau”

Selanjutnya Mu’adz bin Jabal ra. mengisahkan sebagai berikut, “Ketika aku mendatangi Rasulullah saw., beliau sedang menunggangi unta dan beliau menyuruhku untuk naik di belakang beliau. Maka berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai unta tersebut. Sesaat kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, kemudian bersabdalah Rasulullah saw.:”

“Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang memberikan ketentuan (qadha) atas segenap makhluk-Nya menurut kehendak-Nya, ya Mu’adz!”. Aku menjawab, “Labbaik yaa Sayyidal Mursaliin”.

“Wahai Mu’adz! Sekarang akan aku beritakan kepadamu suatu hadits yang jika engkau mengingat dan tetap menjaganya maka (hadits) ini akan memberi manfaat kepadamu di hadhirat Allah, dan jika engkau melalaikan dan tidak menjaga (hadits) ini maka kelak di Hari Qiyamah hujjahmu akan terputus di hadhirat Allah Ta’ala!”

“Wahai Mu’adz! Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menciptakan tujuh Malaikat sebelum Dia menciptakan tujuh lelangit dan bumi. Pada setiap langit tersebut ada satu Malaikat yang menjaga khazanah, dan setiap pintu dari pintu-pintu lelangit tersebut dijaga oleh seorang Malaikat penjaga, sesuai dengan kadar dan keagungan (jalaalah) pintu tersebut.

Maka naiklah al-Hafadzah (malaikat-malaikat penjaga insan) dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang telah ia lakukan semenjak subuh hari hingga petang hari. Amal perbuatan tersebut tampak bersinar dan menyala-nyala bagaikan sinar matahari, sehingga ketika al-Hafadzah membawa naik amal perbuatan tersebut hingga ke Langit Dunia mereka melipat gandakan dan mensucikan amal tersebut. Dan ketika mereka sampai di pintu Langit Pertama, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya! Akulah ‘Shaahibul Ghiibah’, yang mengawasi perbuatan ghiibah (menggunjing orang), aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal ini melewatiku untuk menuju ke langit yang berikutnya!”

Kemudian naiklah pula al-Hafadzah yang lain dengan membawa amal shalih diantara amal-amal perbuatan seorang hamba. Amal shalih itu bersinar sehingga mereka melipat-gandakan dan mensucikannya. Sehingga ketika amal tersebut sampai di pintu Langit Kedua, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, karena ia dengan amalannya ini hanyalah menghendaki kemanfaatan duniawi belaka! Akulah ‘Malakal Fakhr’, malaikat pengawas kemegahan, aku telah diperintah Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan ini melewatiku menuju ke langit berikutnya, sesungguhnya orang tersebut senantiasa memegahkan dirinya terhadap manusia sesamanya di lingkungan mereka!”. Maka seluruh malaikat mela’nat orang tersebut hingga petang hari.

Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba yang lain. Amal tersebut demikian memuaskan dan memancarkan cahaya yang jernih, berupa amal-amal shadaqah, shalat, shaum, dan berbagai amal bakti (al-birr) yang lainnya. Kecemerlangan amal tersebut telah membuat al-Hafadzah takjub melihatnya, mereka pun melipat-gandakan amal tersebut dan mensucikannya, mereka diizinkan untuk membawanya. Hingga sampailah mereka di pintu Langit Ketiga, maka berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya! Akulah ‘Shaahibil Kibr’, malaikat pengawas kesombongan, aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini lewat dihadapanku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya pemilik amal ini telah berbuat takabbur di hadapan manusia di lingkungan (majelis) mereka!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah yang lainnya dengan membawa amal seorang hamba yang sedemikian cemerlang dan terang benderang bagaikan bintang-bintang yang gemerlapan, bagaikan kaukab yang diterpa cahaya. Kegemerlapan amal tersebut berasal dari tasbih, shalat, shaum, haji dan umrah. Diangkatlah amalan tersebut hingga ke pintu Langit Keempat, dan berkatalah Malaikat penjaga pintu langit kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah, punggung, dan perut dari si pemiliknya! Akulah ‘Shaahibul Ujbi’, malaikat pengawas ‘ujub (mentakjubi diri sendiri), aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya si pemilik amal ini jika mengerjakan suatu amal perbuatan maka terdapat ‘ujub (takjub diri) didalamnya!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba hingga mencapai ke Langit Kelima, amalan tersebut bagaikan pengantin putri yang sedang diiring diboyong menuju ke suaminya. Begitu sampai ke pintu Langit Kelima, amalan yang demikian baik berupa jihad, haji dan umrah yang cahayanya menyala-nyala bagaikan sinar matahari. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya dan pikulkanlah pada pundaknya! Akulah ‘Shaahibul Hasad’, malaikat pengawas hasad (dengki), sesungguhnya pemilik amal ini senantiasa menaruh rasa dengki (hasad) dan iri hati terhadap sesama yang sedang menuntut ilmu, dan terhadap sesama yang sedang beramal yang serupa dengan amalannya, dan ia pun juga senantiasa hasad kepada siapapun yang berhasil meraih fadhilah-fadhilah tertentu dari suatu ibadah dengan berusaha mencari-cari kesalahannya! Aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku untuk menuju ke langit berikutnya!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang memancarkan cahaya yang terang benderang seperti cahaya matahari, yang berasal dari amalan menyempurnakan wudhu, shalat yang banyak, zakat, haji, umrah, jihad, dan shaum. Amal perbuatan ini mereka angkat hingga mencapai pintu Langit Keenam. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu ini kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, sesungguhnya sedikitpun ia tidak berbelas kasih kepada hamba-hamba Allah yang sedang ditimpa musibah (balaa’) atau ditimpa sakit, bahkan ia merasa senang dengan hal tersebut! Akulah ‘Shaahibur-Rahmah’, malaikat pengawas sifat rahmah (kasih sayang), aku telah diperintahkan Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini melewatiku menuju ke langit berikutnya!”

Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang lain, amal-amal berupa shaum, shalat, nafaqah, jihad, dan wara’ (memelihara diri dari perkara-perkara yang haram dan subhat/meragukan). Amalan tersebut mendengung seperti dengungan suara lebah, dan bersinar seperti sinar matahari. Dengan diiringi oleh tiga ribu malaikat, diangkatlah amalan tersebut hingga mencapai pintu Langit Ketujuh. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya, pukullah anggota badannya dan siksalah hatinya dengan amal perbuatannya ini! Akulah ‘Shaahibudz-Dzikr’, malaikat pengawas perbuatan mencari nama-diri (ingin disebut-sebut namanya), yakni sum’ah (ingin termashur). Akulah yang akan menghijab dari Rabb-ku segala amal perbuatan yang dikerjakan tidak demi mengharap Wajah Rabb-ku! Sesungguhnya orang itu dengan amal perbuatannya ini lebih mengharapkan yang selain Allah Ta’ala, ia dengan amalannya ini lebih mengharapkan ketinggian posisi (status) di kalangan para fuqaha (para ahli), lebih mengharapkan penyebutan-penyebutan (pujian-pujian) di kalangan para ulama, dan lebih mengharapkan nama baik di masyarakat umum! Aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini lewat dihadapanku! Setiap amal perbuatan yang tidak dilakukan dengan ikhlash karena Allah Ta’ala adalah suatu perbuatan riya’, dan Allah tidak akan menerima segala amal perbuatan orang yang riya’!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum, haji, umrah, berakhlak baik, diam, dan dzikrullah Ta’ala. Seluruh malaikat langit yang tujuh mengumandang-kumandangkan pujian atas amal perbuatan tersebut, dan diangkatlah amalan tersebut dengan melampaui seluruh hijab menuju ke hadhirat Allah Ta’ala. Hingga sampailah dihadhirat-Nya, dan para malaikat memberi kesaksian kepada-Nya bahwa ini merupakan amal shalih yang dikerjakan secara ikhlash karena Allah Ta’ala.

Maka berkatalah Allah Ta’ala kepada al-Hafadzah, “Kalian adalah para penjaga atas segala amal perbuatan hamba-Ku, sedangkan Aku adalah Ar-Raqiib, Yang Maha Mengawasi atas segenap lapisan hati sanubarinya! Sesungguhnya ia dengan amalannya ini tidaklah menginginkan Aku dan tidaklah mengikhlashkannya untuk-Ku! Amal perbuatan ini ia kerjakan semata-mata demi mengharap sesuatu yang selain Aku! Aku yang lebih mengetahui ihwal apa yang diharapkan dengan amalannya ini! Maka baginya laknat-Ku, karena ini telah menipu orang lain dan telah menipu kalian, tapi tidakklah ini dapat menipu Aku! Akulah Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib, Maha Melihat segala apa yang ada di dalam hati, tidak akan samar bagi-Ku setiap apa pun yang tersamar, tidak akan tersembunyi bagi-Ku setiap apa pun yang bersembunyi! Pengetahuan-Ku atas segala apa yang akan terjadi adalah sama dengan Pengetahuan-Ku atas segala yang baqa (kekal), Pengetahuan-Ku tentang yang awal adalah sama dengan Pengetahuan-Ku tentang yang akhir! Aku lebih mengetahui perkara-perkara yang rahasia dan lebih halus, maka bagaimana Aku dapat tertipu oleh hamba-Ku dengan ilmunya? Bisa saja ia menipu segenap makhluk-Ku yang tidak mengetahui, tetapi Aku Maha Mengetahui Yang Ghaib, maka baginya laknat-Ku!”

Maka berkatalah malaikat yang tujuh dan 3000 malaikat yang mengiringi, “Yaa Rabbana, tetaplah laknat-Mu baginya dan laknat kami semua atasnya!”, maka langit yang tujuh beserta seluruh penghuninya menjatuhkan la’nat kepadanya.

Setelah mendengar semua itu dari lisan Rasulullah saw. maka menagislah Mu’adz dengan terisak-isak, dan berkata, “Wahai Rasulullah! Engkau adalah utusan Allah sedangkan aku hanyalah seorang Mu’adz, bagaimana aku dapat selamat dan terhindar dari apa yang telah engkau sampaikan ini?”

Berkatalah Rasulullah saw., “Wahai Mu’adz! Ikutilah Nabi-mu ini dalam soal keyakinan sekalipun dalam amal perbuatanmu terdapat kekurangan. Wahai Mu’adz! Jagalah lisanmu dari kebinasaan dengan meng-ghiibah manusia dan meng-ghiibah saudara-saudaramu para pemikul Al-Qur’aan. Tahanlah dirimu dari keinginan menjatuhkan manusia dengan apa-apa yang kamu ketahui ihwal aibnya! Janganlah engkau mensucikan dirimu dengan jalan menjelek-jelekan saudara-saudaramu! Janganlah engkau meninggikan dirimu dengan cara merendahkan saudara-saudaramu! Pikullah sendiri aib-aibmu dan jangan engkau bebankan kepada orang lain”

“Wahai Mu’adz! Janganlah engkau masuk kedalam perkara duniamu dengan mengorbankan urusan akhiratmu! Janganlah berbuat riya’ dengan amal-amalmu agar diketahui oleh orang lain dan janganlah engkau bersikap takabbur di majelismu sehingga manusia takut dengan sikap burukmu!”

“Janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang sementara di hadapanmu ada orang lain! Janganlah engkau mengagung-agungkan dirimu dihadapan manusia, karena akibatnya engkau akan terputus dari kebaikan dunia dan akhirat! Janganlah engkau berkata kasar di majelismu dan janganlah engkau merobek-robek manusia dengan lisanmu, sebab akibatnya di Hari Qiyamah kelak tubuhmu akan dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka Jahannam!”

“Wahai Mu’adz! Apakah engkau memahami makna Firman Allah Ta’ala: ‘Wa naasyithaati nasythan!’ (‘Demi yang mencabut/menguraikan dengan sehalus-halusnya!’, An-Naazi’aat [79]:2)? Aku berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Apakah itu wahai Rasulullah?”

Rasulullah saw. bersabda, “Anjing-anjing di dalam Neraka yang mengunyah-ngunyah daging manusia hingga terlepas dari tulangnya!”

Aku berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Ya Rasulullah, siapakah manusia yang bisa memenuhi seruanmu ini sehingga terhindar dari kebinasaan?”

Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Mu’adz, sesungguhnya hal demikian itu sangat mudah bagi siapa saja yang diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala! Dan untuk memenuhi hal tersebut, maka cukuplah engkau senantiasa berharap agar orang lain dapat meraih sesuatu yang engkau sendiri mendambakan untuk dapat meraihnya bagi dirimu, dan membenci orang lain ditimpa oleh sesuatu sebagaimana engkau benci jika hal itu menimpa dirimu sendiri! Maka dengan ini wahai Mu’adz engkau akan selamat, dan pasti dirimu akan terhindar!”

Khalid bin Ma’dan berkata, “Sayyidina Mu’adz bin Jabal ra. sangat sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya beliau membaca Al-Qur’aan, dan sering mempelajari hadits ini sebagaimana seringnya beliau mempelajari Al-Qur’aan di dalam majelisnya”.

Pasangan Hidup Telah Dituliskan

•January 30, 2011 • 1 Comment

Sebagaimana telah diterangkan dalam “Al-Jami’ul Kabiir”, dari Buraidah bin Muhammad As-Sa’adi, yang memberitakan dari ayahnya, bahwa telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw, kemudian ia memohon kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku ingin menikahi seorang wanita, berdo’alah untukku!”

Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Seandainya malaikat Israfil, Jibril, Mikail, dan seluruh malaikat Pemikul ‘Arsy secara bersama berdo’a untukmu, dan demikian pula aku berdo’a beserta mereka, maka tidaklah engkau akan berpasangan (menikah) kecuali dengan seorang wanita yang telah dituliskan-Nya untukmu!”

- Sumber: “Asbaabul Wuruud”, Ibnu Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi Ad-Damsyiqi -

(KZ)

Kajian Quran, Ad-Diin Al-Islam,Al-Iman,Al-Ihsan, Tauhid, Mengenal Diri Sejati

•February 20, 2010 • 11 Comments

MATERI 1: Konsep Struktur Insan
1.Manusia terdiri dari 3 (tiga) aspek, yaitu ruh, jiwa (nafs) dan jasad.
2.Perbedaan antara ruh, jiwa (nafs) dan jasad.
3.Penjelasan pembentuk jasad.
4.Perbedaan antara hawa nafsu-syahwat
5.Hubungan antara jiwa (nafs), hawa-syahwat dan jasad.
6.Penjelasan perjalanan setiap jiwa (mawaathiin): mauthiin nur, mauthiin alastu, mauthiin rahim, mauthiin dunia, mauthiin barzakh, dan mauthiin mahsyar, mauthiin akhirat.

MATERI 2: Konsep Qalb dan Hijabnya
1.Penjelasan tentang hati (qalb) dari Imam al Ghazali.
2.Hati di tiga persimpangan jalan.
3.Penjelasan tentang hadits empat jenis hati.
4.Perbedaan antara amal shalih dengan amal baik.
5.Akal perangkat pengendalian hawa nafsu-syahwat.
6.Penjelasan tentang sayyiah, dzanbun, itsmun, khotoun
7.Ciri hati yang tidak terhijab dengan ayat “Laa yamassuhuu illa al Muthahharuun”.

MATERI 3: Konsep Iman
1.Definisi dan wujud iman menurut Imam al-Ghazali.
2.Penjelasan tentang Rahmat Allah
3.Kaitan iman dengan Rahmat Allah.
4.Kaitan iman dengan an-nafs.
5.Penjelasan iman dengan ilmul-yaqin, `ainul-yaqiin, haqqul-yaqiin.
6.Penjelasan tentang ayat QS 24:35.
7.Penjelasan tentang hadits iman itu bisa naik dan turun.
8.Penjelasan tentang martabat iman.
9.Penjelasan tentang fungsi iman.
10.Penjelasan tentang Laa ya massuhuu illal Muthahharuun.

MATERI 4: Konsep Petunjuk Allah
1.Penjelasan tentang petunjuk Allah (umum dan khusus).
2.Memahami al-Qur’an sebagai petunjuk umum yang diberikan Allah kepada semua manusia (linnas).
3.Penjelasan ayat wa man yu’min billah yahdi qalbah (QS 64:11), bahwa seseorang memungkin menerima petunjuk langsung dari Allah, dengan syarat hatinya memiliki iman.
4.Penjelasan tentang bentuk-bentuk petunjuk khusus dari Allah.
5.Penjelasan bahwa dengan petunjuk langsung, seseorang terpimpin ke Shiraath al Mustaqiim.

MATERI 5: Konsep Ujian Allah
1.Kaitan amal shalih dengan ujian Allah.
2.Penjelasan ujian, cobaan, musibah, adzab.
3.Penjelasan tentang maa khalaqta hadzaa batilan.
4.Konsepsi Ujian sebagai pelebur dzanbun.
5.Konsepsi Ujian sebagai cermin.
6.Konsepsi Ujian sebagai pembentukan an-nafs.

MATERI 6: Konsep Ad-Diin
1.Penjelasan tentang tiga sendi ad-Diin al Islam, yaitu al-iman, al-islam dan al-ihsan.
2.Awal ad-diin adalah memahami dan mengenal Allah.
3.Taqwa adalah terbangunnya tiga sendi ad-diin dalam diri.
4.Fungsi dan hubungan al-iman, al-islam dan al-ihsan dalam pembentukan an-nafs.
5.Penjelasan tentang syariah bathiniah.
6.Penjelasan tentang syariah lahiriah.

MATERI 7: Konsep Shiraath al Mustaqiim.
1.Penjelasan tentang 3 (tiga) golongan dalam al-Fathihah.
2.Penjelasan tentang makna Shiraath al Mustaqiim.
3.Penjelasan tentang 4 (empat) golongan yang berada di Shiraath al Mustaqiim.
4.Penjelasan tentang ciri orang yang tidak berada di Shiraath al Mustaqiim.

MATERI 8: Konsep Misi Hidup
1.Penjelasan tentang tujuan penciptaan manusia.
2.Penjelasan tentang bahwa tiap manusia memiliki misi hidupnya masing-masing.
3.Penjelasan tentang ruh-al-quds.
4.Penjelasan kaitan antara konsepsi struktur insan dengan konsepsi misi hidup.
5.Penjelasan tentang kaitan misi hidup dengan amal shalih.

MATERI 9: Konsep Taubat
1.Penjelasan tentang taubat an nasuuha.
2.Penjelasan tentang penyerahan diri kepada Allah.
3.Kaitan pengendalian diri dari hawa nafsu-syahwat, amal shalih, dengan penyerahan diri kepada Allah.
4.Penjelasan tentang jenis akal (`aql).
5.Penjelasan tentang peran akal pikiran dalam taubat.
6.Penjelasan tentang Rahmat Allah dan kaitannya dengan taubat an nasuuha.
7.Penjelasan Rahmat Allah dan kaitannya dengan sayyiah dan hasanah
Free

CP:08562227444

9 Cara Membuat Anak Pintar

•January 4, 2010 • 3 Comments

Kepintaran seorang bisa dibilang sebuah anugerah yang diberikan kepada anak tersebut. Tapi ternyata faktor yang mempengaruhi kepintaran seorang anak juga ditentukan oleh lingkungannya.

Ada banyak hal yang bisa membuat anak menjadi lebih pintar, tentunya selain dengan belajar di sekolah. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak menjadi lebih pintar, seperti dikutip dari MSNNews, Sabtu (1/8/2009):

1. Bermain permainan yang berpikir
Catur, teka-teki silang dan sudoku selain menyenangkan juga mendukung strategi berpikir anak-anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang kompleks.

2. Bermain musik
Bermain musik selain menyenangkan juga bisa merangsang pertumbuhan otak kanan. Menurut sebuah studi di Universitas Toronto, diadakannya pelajaran musik bisa memberikan keuntungan dalam meningkatkan IQ anak dan performa akademisnya. Semakin lama waktu yang digunakan untuk bermain musik maka efek yang dihasilkan juga semakin besar.

3. Pemberian ASI
ASI merupakan makanan otak yang paling dasar. Peneliti secara konsisten terus menunjukkan berbagai macam keuntungan ASI yang behubungan dengan pertumbuhan bayi. Anak yang mengkonsumsi ASI eksklusif akan memiliki tingkat kepintaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi ASI hanya beberapa bulan saja.

4. Membiasakan berolahraga
Para peneliti di Universitas Illinois menunjukkan hubungan yang kuat antara kebugaran dan prestasi akademik di antara anak-anak sekolah dasar. Semakin bugar badan sang anak maka kemampuan dalam menerima pelajaran juga meningkat. Sebaiknya mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas fisik atau organisasi olahraga tertentu sesuai dengan minat anak.

5. Menyingkirkan makanan siap saji
Mengurangi asupan gula, lemak trans dari makanan siap saji dan menggantinya dengan makanan bergizi tinggi yang baik untuk perkembangan mental anak usia dini serta berfungsi dalam perkembangan motorik anak pada usia 1-2 tahun pertama. Contohnya anak-anak memerlukan zat besi untuk perkembangan jaringan otak yang sehat, anak yang kekurangan zat besi akan lambat dalam menerima rangsangan.

6. Mengembangkan rasa ingin tahu
Para ahli mengatakan orang tua yang menunjukkan rasa ingin tahunya pada anak akan mendorong anak untuk mencari ide-ide baru, sehingga merangsang anak untuk berpikir. Mengajari anak keterampilan baru serta pendidikan di luar rumah juga bisa mengembangkan rasa ingin tahu anak dan intelektualnya.

7. Budayakan membaca
Membaca adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan pembelajaran dan perkembangan kognitif anak-anak dari segala usia. Cara ini bisa dimulai dengan sering membacakan anak dongeng sebelum tidur dan sering-seringlah memberikan anak hadiah buku yang bisa menarik perhatiannya.

8. Mengajarkan kepercayaan diri
Orang tua sebaiknya meningkatkan semangat dan optimisme anak-anak. Berpartisipasi dalam tim olahraga atau kegiatan sosial akan membantu meningkatkan kepercayaan diri sang anak diantara teman-temannya.

9. Memberikan sarapan yang sehat
Para peneliti meyakinkan bahwa mengonsumsi sarapan yang sehat akan meningkatkan memori dan konsentrasi anak dalam belajar. Anak-anak yang tidak dibiasakan sarapan cenderung lebih mudah marah dan kurang konsentrasi pada waktu belajar, sementara anak yang sarapan akan tetap fokus dan bergerak selama jam sekolah.
(DetikHealth)

Islam Ritual

•October 13, 2009 • 2 Comments

SEJAK dekade 1980-an, saya sering merasa terhibur oleh banyak informasi tentang Muslim di Indonesia, meskipun sering pula menimbulkan tanda tanya. Konon, telah terjadi peningkatan gairah beragama masyarakat Muslim. Menurut sebagian pendapat, ini merupakan keharusan sejarah.

Sementara sebagian lainnya, dengan berharap pada efek hukum perputaran sejarah, menyebut sebagai romantisisme sejarah masa lalu. Berbagai analisis hadir dalam nuansa yang penuh optimisme. Isu kebangkitan Islam pun kemudian disambut dengan gempita.

Awal 1980-an, fenomena jilbab menandai gairah baru kehidupan masyarakat Muslim. Kampus-kampus perguruan tinggi mulai diwarnai pemandangan keislaman yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kontroversi penggunaan jilbab di lingkungan sekolah non-pesantren seolah menjadi kendaraan yang dapat mempercepat sosialisasi jilbab ke seluruh lapisan masyarakat. Bahkan buku-buku tentang Islam, menurut salah satu survei saat itu, meningkat bersamaan dengan munculnya gairah tersebut.

Yang lebih menarik lagi, fenomena itu semakin tampak menjadi warna lapisan menengah sosial di Indonesia. Kerumunan ibu-ibu yang biasa mendatangi pengajian rutin di desa-desa, sejak saat itu mulai merambah kalangan menengah. Pengajian eksekutif di kantor-kantor, penyelenggaraan shalat jum’at dan tarawih di hotel-hotel berbintang kemudian menjadi fakta yang dapat menggenapkan suasana. Masjid-masjid kampus hidup memberikan spirit baru dunia kemahasiswaan, dengan tetap memelihara kedekatannya dengan kalangan pelajar dan lapisan masyarakat pada umumnya.

Jika sebelumnya Muslim sering diidentifikasi dengan warna-warna desa yang mencitrakan tradisionalisme kehidupan, kini Islam berubah menjadi agama kota. Agama yang menjadi identitas kelas menengah. Agama yang menjadikan komunitas para pemeluknya sebagai individu dan masyarakat maju. Anjuran Nabi untuk saling menyapa dengan ucapan “salam” pun kemudian menjadi budaya baru kehidupan kota. Jadi, pakaian dan ucapan telah mencitrakan simbol keislaman yang semakin kental menjadi “gaya hidup” hampir semua lapisan sosial.

Bukan hanya itu. Dalam bidang seni budaya, lagu-lagu bernuansa religius semakin digemari usia remaja. Padahal, sebelumnya, mereka lebih tertarik pada lagu-lagu yang mencerminkan budaya dan identitas masyarakat Barat. Muncullah nasyid yang kemudian banyak digemari kaula muda Muslim. Mereka seolah menemukan identitas baru yang tetap mampu memelihara citra remaja kota. Ada kecenderungan baru untuk menikmati lirik-lirik lagu yang memiliki muatan pesan-pesan Islami.

Riak-riak itu tampaknya terus berjalan menembus waktu. Pada pentas berikutnya, ia terbukti sanggup berubah menjadi gelombang besar. Simbol-simbol keislaman formal semakin banyak dianut oleh berbagai lapisan dan kalangan, sekaligus menjadi warna yang semakin terbuka hampir pada semua peristiwa. Di sela-sela kerumunan orang para pecandu sepak bola, misalnya, tampak di layar televisi perempuan berjilbab; dalam acara kuis yang banyak digemari masyarakat, jilbab selalu hadir di antara mereka; dan hampir dalam semua peristiwa yang melibatkan banyak orang, jilbab yang diidentifikasi sebagai bagian dari simbol dan identitas pemeluk Islam, selalu tampak menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan.

UNTUK sementara waktu saya sendiri hampir tidak peduli dengan berbagai komentar yang kurang membahagiakan. Bagi saya, identitas formal itu tetap memiliki arti penting. Jika gelombang itu terus berlanjut, tidak tertutup kemungkinan bila kemudian berubah menjadi budaya material yang dapat dibanggakan. Budaya orang Islam yang tetap menarik perhatian banyak kalangan. Identitas sosial yang memiliki nuansa religius, tapi tetap relevan dengan tuntutan zaman.

Secara kuantitatif, lapisan baru komunitas Muslim ini terus bertambah. Pilihan-pilihan aktivitas keagamaan yang tetap memenuhi selera sosial mereka juga semakin kaya. Pada musim libur sekolah, ziarah ke tanah suci kini menjadi pilihan pengisi luang. Saya kira, ini bukan pelarian. Ini adalah pilihan yang sengaja mereka ambil. Kebutuhan akan konsumsi spiritual mungkin telah menjadi prioritas di luar aktivitas rutin yang sering membuat kehidupan semakin jenuh dan membosankan. Pendek kata, fenomena ini sangat membahagiakan.

Tapi, seperti itulah kehidupan. Mata kita sering tidak sanggup menembus hakikat di balik fakta. Mungkin kita sulit percaya, jika di balik fenomena simbolik itu masih menyisakan makna artifisial yang memprihatinkan. Konon lagi, menurut sahabat perempuan saya yang setiap hari bekerja, semua wanita di tempat kerjanya kini telah berjilbab. Kenyataan yang menggembirakan. Tapi, ada yang tidak mudah dipahami. Kebanyakan di antara mereka selalu dalam kondisi haid (datang bulan). Otomatis mereka tidak bisa melaksanakan kewajiban shalat.

Sama halnya dengan kepadatan orang melaksanakan shalat Sunat Id hari lebaran, tapi tidak sempat melaksanakan shalat wajib lima kali sehari semalam. Banyak orang sanggup berkali-kali berhaji, tapi tak kuasa mengeluarkan sebagian hartanya untuk kaum dhuafa. Atau tega melepas kembali jilbab seusai ramai-tamai tarawih berjamaah di sela-sela kesibuikan ramadhan. Dan melepas kembali busana muslimah setelah tuntas acaratalkshow atau main sinetron di televisi.

Mungkin, inilah kuantitas umat yang diilustrasikan Nabi sebagai “buih”. Menggembirakan, tapi hanya di permukaan. Atau, paling untung, dia telah berislam, tapi baru pada tataran ritual, dan belum menyentuh dimensi sosial.*


warnaislam.com

Mengintegrasikan Sumber-Sumber Belajar

•October 13, 2009 • Leave a Comment

Ternyata istri saya tidak sendirian, ada banyak ibu muda lain yang punya niat yang sama atas anak-anaknya. Ada di antaranya yang meminta pendapat saya sebelum mengeksekusi niatnya. Berikut ini adalah jawaban saya, kepada istri saya, kepada ibu muda lain itu, dan kepada siapapun yang bisa saja menghadapi masalah serupa.

Saya tidak berani merekomendasikan anak-anak anda untuk menonton pertunjukan itu. Saya lebih setuju ibu membinanya untuk banyak membaca, olahraga dan terjun dalam pengalaman langsung, dalam aktivitas, bersama anak-anak muslim dan masyarakat pada umumnya.

Rosululloh saw membasiskan pembangunan masyarakat dari membaca, bukan menonton. Pun, bacaan-bacaan tersebut harus terintegrasi dan mengacu pada sumber belajar kita yang utama, yakni Al Qur-an dan Hadist sahih. Sekiranya berlawanan atau melalaikan, jangan diambil. Tapi,  jika tidak bertentangan – yang berarti menunjang akidah dan iman islam, atau sekurang-kurangnya tidak melalaikan kita dari mengingat Alloh, tidak melalaikan kita dari mengingat akar sosial dan kultural kita,  dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak ibu, ambillah untuk dibaca mereka.

Integrasi sumber-sumber belajar adalah wisdom atau hikmah dari hidup bertauhid, di mana sumber-sumber belajar kita satu sama lain saling menunjang. Inilah belajar dan hidup yang terintegrasi, atau belajar secara bertauhid.

Sumber-sumber belajar tersebut meliputi: orang (teman, guru, orangtua, dl), media massa (koran, majalah, buku-buku, radio, televisi, dll). Apakah sumber-sumber ini saling menunjang dalam hidup kita, mari kita evaluasi.

Apakah koran yang kita langgan, secara ideologis dan historis, membela dan menguatkan islam? Atau justru berada di pihak, yang secara diam-diam atau mungkin malah terang-terangan, berhadap-hadapan dengan islam – yang dengan demikian menyakiti umat islam? Juga majalah, buku-buku, radio yang kita dengar, mata acara televisi yang kita tonton, dan lain-lain.

Lihat juga siapa yang kita temani atau akrabi, apakah ia atau mereka, pilihan yang tepat yang dapat membuat akidah dan iman islam kita terjaga? Adakah itikad bersama untuk membangun iklim tawaashoubil haqqi dan tawashoubil sobr (saling mengingatkan dengan kebenaran dan menetapi kesabaran)? Atau justru saling menjerumuskan?

Apakah membuat kita menjadi lebih mencintai saudara muslim dan memberi rahmat, kasih sayang, pada seisi alam semesta? Atau malah mendekatkan diri kita pada penentang-penentang Alloh?

Mengajak kita hidup lebih bersih dan mulia? Atau mengantar kita mengakrabi barang-barang dan kegiatan-kegiatan yang syubat, bahkan haram?

Mengajak kita menggunakan dunia untuk memperjuangkan akhirat? Atau cuma melangutkan kita dengan kesenangan-kesenangan semu dan sesaat yang kering dari nilai ukhrowi?

Lingkungan adalah variabel yang menentukan pembentukan kepribadian manusia. Jauh sebelum penelitian-penelitian sampai kepada tesa ini, Rosululloh saw sudah mengisyaratkan pentingnya lingkungan. Beliau berkata, sebagaimana diriwayatkan Ahmad dan At-Tirmidzi, bahwa agama seseorang – termasuk kualitas beragamanya, bergantung pada siapa yang ia pergauli, maka masing-masing muslim diminta untuk mencermati siapa yang diakrabi.

Lihat juga komunitas kita, tempat kita bercengkerama, bahkan apa yg kita makan: terjaminkah kehalalannya? Atau tanpa sadar kita masih menyantap makanan-makanan yang syubat?

Singkatnya, pemilihan atau seleksi atas semua variabel lingkungan yang berinteraksi dengan hidup harus kita dasarkan pada rujukan puncak,  yakni: al-Qur’an dan Hadist sahih. Inilah acuan dasar kita untuk mengenali anasir-anasir yang akan terus ada dan berlawanan sepanjang hidup manusia: tauhid>

Lawan dari sumber-sumber belajar yang terintegrasi adalah sumber-sumber belajar yang acak, tidak menunjukkan struktur dan kesatuan, tidak saling menunjang, centang-perenang, bahkan saling merubuhkan – karena dipilih berdasarkan pedoman yang kacau, atau memang tidak berpedoman.

Kondisi belajar demikian ini akan menghasilkan manusia dengan ‘kekacauan ideologi’, di mana banyak konsep-konsep ‘tampak benar’ berkecamuk di benaknya, yang cenderung saling berbenturan.

Pribadi yang mengalami kekacauan ideologi, niscaya adalah pribadi yang ‘pecah’, gamang dan bingung dalam mengenali kebenaran. Maka ketahuilah, gamang adalah karakter yang menguntungkan musuh-musuh islam. Mereka itu, tidak perlu membuat kita secara formal murtad, cukup membuat muslim itu gamang, itu sudah setengah lebih dari kemenangan.

Mengapa? Sebab kegamangan membedakan kebenaran dari anasir kebathilan akan menumbuhkan sifat: pesimis, ragu-ragu, pengecut, apatis, oportunis, tidak peka, dalam mengidentifikasi dan mengambil sikap terhadap kebathilan. Jika seorang muslim sudah dihinggapi sifat-sifat demikian ini, maka lebih mudahlah ia dipalingkan dari islam. Bahkan, sekalipun secara formal ia masih muslim, boleh jadi telah mulai tanggallah islam dari jiwanya.

Lihatlah contoh segar baru-baru ini, ketika undang-undang anti pornografi dirancang, tidakkah kita mengenali adanya pihak-pihak, media-media, yang dengan gencar menekuk-nekuk kebenaran dengan keindahan retorika, bahasa keminter, untuk membuat kita (muslim), menjadi apatis, gamang, ambigu, dan membuat kebenaran tampak begitu rumitnya?

Lihatlah hasilnya. Banyak saudara-saudara muslim yang menjadi bersikap demikian itu, bahkan tidak sedikit yang mengambil sikap berseberangan (kontra) terhadap undang-undang tersebut.

Itulah yang dikerjakan musuh-musuh islam melalui berbagai media yang menjadi komprador mereka: membentuk pribadi-pribadi yang gamang pada kebenaran. Inilah yang dalam islam disebut ‘perang pemikiran’ dengan media dan berbagai bentuk sumber belajar sebagai instrumennya.

Semoga Alloh swt memberi kita kemampuan untuk mengenali kebenaran, dan kemampuan untuk memperjuangkannya. Dan semoga Alloh swt memberi kita kemampuan mengenali kebathilan, dan kemampuan untuk melawannya. Barokalloohu fiik. Wassalamu’alaikum. (Ahmad Antawirya).*


warnaislam.com

Kiat Menulis Artikel Dakwah

•October 13, 2009 • Leave a Comment

“Membaca tanpa menulis, ibarat memiliki harta dibiarkan menumpuk tanpa dimanfaatkan. Menulis tanpa membaca, ibarat mengeduk air dari sumur kering. Tidak membaca dan juga tidak menulis, ibarat orang tak berharta jatuh ke dalam sumur penuh air” (Gordon Smith, politikus Inggris, abad 18).

Membaca dan menulis ibarat sisi mata uang. Saling menunjang peran dan fungsi masing-masing. Salah besar pendapat orang yang menganggap membaca dan menulis membuang-buang waktu. Membaca dan menulis adalah pekerjaan besar bagi orang-orang berperadaban dan mengetahui manfaat membaca dan menulis dalam mengembangkan kemajuan peradaban.

Hanya saja, mayoritas bangsa kita masih awam dalam soal membaca dan menulis. Alasannya, tidak punya waktu. Padahal dalam sehari-semalam banyak orang membuang-buang waktu tak karuan. Seperti nongkrong di pinggir jalan, ngobrol di gardu ronda, melamun memeluk lutut, dan sebagainya.

Membaca dan menulis dianggap bukan professi penting. Dianggap tidak menghasilkan. Berbeda dengan dagang, kuli, menjadi PNS, debt colector, atau pekerjaan lain yang tidak membutuhkan membaca dan menulis.

Ditambah kurangnya dukungan infrastruktur yang mendorong kemajuan pekerjaan membaca dan menulis. Harga buku mahal (padahal dibandingkan dengan harga kaset, CD, DVD, harga buku lebih murah). Menulis membutuhkan enerji khusus (padahal berolahraga lebih membutuhkan enerji khsus dalam bentuk makanan-minuman suplemen yang tidak murah). Perpustakaan juga sangat kurang. Jangankan perpustakaan pribadi, perpustakaan umum pun, nyaris tidak ada di sembarang tempat. Kalaupun ada, kesannya angker, birokrasinya rumit, koleksinya kurang dan “out of date”. Bandingkan dengan kondisi negara besar seperti Amerika Serikat, pada abad 18 saja, para penduduk pedesaan rata-rata sudah memiliki perpustakaan pribadi di rumah masing-masing.

Pada kesempatan ini, akan diuraikan kiat-kiat sederhana tentang membaca dan menulis.Tentu saja, menulis akan mendapat prosi lebih besar, karena soal membaca, kiranya para peserta Diklat sudah terbiasa. Mungkin dalam intensitas saja yang perlu peningkatan.

JIKA membaca sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi tuntutan, akan muncul keinginan menulis. Segala sesuatu yang dibaca akan merangsang pendapat kita, baik yang berlawanan maupun yang sejalan dengan isi tulisan. Jika selama atau sesudah membaca sebuah tulisan, timbul perasaan “saya juga bisa” atau “ah, pendapat ini salah”, Insya Allah, bibit kepenulisan mulai mekar berkembang, dan perlu penyaluran segera. Jangan dibatasi dengan “ingin menulis” tanpa pernah mencobanya satu kali pun.

Kedua, menumbuhkan kegemaran dan keterampilan menulis. Langkah-langkah ke arah itu, adalah sebagai berikut :

1. Tulislah apa yang ingin kita tulis pada waktu keinginan itu tiba-tiba muncul. Jangan dibiarkan menunggu hingga keinginan itu lenyap kembali. Calon penulis professional akan selalu menyiapkan catatan atau skema singkat, apabila keinginan menulis tiba-tiba muncul. Keinginan menulis tiba-tiba, berupa embrio apa-apa yang akan ditulis, disebut juga ilham, atau apa saja namanya, akan muncul di mana saja. Di perjalanana, di tempat kerja, di bus kota, di warteg atau di WC. Secarik kertas yang tersedia di saku kemeja mungkin akan menjadi penampung terpenting pertama dalam situasi dan kondisi mendadak. Atau ingatan yang kuat ikut berperan sebagai terminal gagasan.

2.Luangkan waktu khusus untuk menuliskan apa-apa yang sudah tercatat atau terpikirkan.

3.Jika waktu luang sudah ada, gagasan dan ilham sudah berhasil dituangkan, maka jadilah Anda seorang bakal penulis. Selamat.

SELUK-beluk menulis dan tulisan.

Tulisan terdiri dari bentuk dan isi. Bentuk adalah paparan, uraian, penyampaian gagasan melalui susunan kata dan kalimat. Isi adalah gagasan, pendapat, keinginan, usul, saran yang kita kemukakan lewat tulisan tadi.

Dilihat dari bentuk dan isinya, tulisan terdiri dari dua jenis :

1.Fiksi : tulisan berdasarkan imajinasi, hayalan. Namu tetap berpijak kepada gagasan nyata. Disampaikan dalam rangkaian kata dan kalimat yang penuh “bunga” gaya bahasa. Penuh metafore, personifikasi, hyperbol, bombasme dan sebagainya yang dikategorikan bahasa “sastra”. Tulisan fiksi meliputi prosa (ceritera pendek, novel, roman), dan puisi (sajak, lirik, nyanyian).

2.Non-fiksi : tulisan berdasarkan data dan fakta. Disampaikan dalam bahasa lugas, tidak menggunakan “gaya bahasa sastra”, walaupun mungkin pada sebagian menampilkan kesan “sastra”. Terutama pada tulisan berbentuk essey.

Yang termasuk tulisan non-fiksi, adalah berita, reportase, essey, artikel opini, artikel ilmiah. Tulisan non-fiksi, bermuatan informasi tertentu (orang tertabrak kerataapi, peristiwa kebakaran, peledakan bom,dlsb.) yang dikemas dalam berita, atau reportase hasil liputan para jurnalis yang terikat oleh kaidah 5 W (What, Why, When, Where, Who) plus 1 H (How), analisa (pada karya ilmiah dan semi ilmiah), serta pandangan penulisnya mengenai satu atau berbagai hal (pada artikel opini).

URAIAN di atas merupakan patokan penulisan naskah bersifat umum. Untuk menulis naskah keagamaan, dapat diperkecil ruang lingkupnya sebagai berikut :

1.Naskah keagamaan bersifat khusus. Menguraikan masalah-masalah fiqih (thaharah, shalat, zakat, saum, haji, mengurus jenazah, dll.), syaraf-nahwu, ulumut tafsir, dll. sebagai bahan ajar di sekolah/madrasah/pesantren.

2.Naskah keagamaan bersifat umum. Menguraikan berbagai fenonema sosial, politik, budaya, ekonomi, berdasarkan sudut pandang agama. Dalam hal ini, Islam.

Jenis yang kedua inilah yang dimaksud dengan naskah keagamaan. Inilah yang disebut artikel dakwah

Setiap tulisan, apalagi tulisan keagamaan atau artikel dakwah, mutlak harus mengacu kepada petunjuk al Quran dan Sunnah Rasululhah Saw. Yaitu mengandung berita yang baik dan benar sesuai dengan missinya mengabarkan sesuatu (Q.san Naba), mencari dan mengetengahkan informasi (Q.s.al Anbiya : 77).

Maka di dalam mengumpulkan bahan-bahan untuk artikel dakwah, baik melalui referensi bacaan, maupun wawancara, harus benar-bnar terarah, fokus pada pokok permasalahan dan jelas (Q.s.al Maidah : 101), harus dicek and ricek (Q.al Hujurat:6), bersih dari sikap intimidasi, menakut-nakuti (Q.s.an Nisa : 94), dan menjauhi prasangka buruk (Q.s.alHujurat: 12).

Artikel dakwah tidak mengandung dan mengundang fitnah yang memutus silaturahim. Sebab pemutusan silaturahim akan menghilangkan rahmat Allah SWT. Sabda Nabi Saw :Inna rahmatan la tanzil ala qaumin qath’urrahim.

Kalau menjadi bahan polemik (perang pendapat secara tertulis atau “perang pena”), tidak mejadi masalah, asal tidak ke luar dari prinsip “bil hikmah, wal maudzatil hasanah, wa jadilhum billati hiya ahsan” (Q.s.an Nahl : 25).

Kata orang Inggris, never put til tomorrow, what can you do today. Mengapa menulis artikel dakwah tidak dimulai hari ini ? Jangan tangguhkan hingga besok.***

* H.Usep Romli HM, wartawan senior “PR”, penulis, sastrawan/budayawan.


Sumber: warnaislam.com

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.