<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ikatan Ilmu</title>
	<atom:link href="http://taufikr.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://taufikr.wordpress.com</link>
	<description>Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Oct 2009 23:10:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='taufikr.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/8ee54a7da3670d9e20c5b084a41f67de?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ikatan Ilmu</title>
		<link>http://taufikr.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Islam Ritual</title>
		<link>http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/islam-ritual/</link>
		<comments>http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/islam-ritual/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 23:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taufikr</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufikr.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[SEJAK dekade 1980-an, saya sering merasa terhibur oleh banyak informasi tentang Muslim di Indonesia, meskipun sering pula menimbulkan tanda tanya. Konon, telah terjadi peningkatan gairah beragama masyarakat Muslim. Menurut sebagian pendapat, ini merupakan keharusan sejarah.
Sementara sebagian lainnya, dengan berharap pada efek hukum perputaran sejarah, menyebut sebagai romantisisme sejarah masa lalu. Berbagai analisis hadir dalam nuansa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=92&subd=taufikr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SEJAK dekade 1980-an, saya sering merasa terhibur oleh banyak informasi tentang Muslim di Indonesia, meskipun sering pula menimbulkan tanda tanya. Konon, telah terjadi peningkatan gairah beragama masyarakat Muslim. Menurut sebagian pendapat, ini merupakan keharusan sejarah.</p>
<p>Sementara sebagian lainnya, dengan berharap pada efek hukum perputaran sejarah, menyebut sebagai romantisisme sejarah masa lalu. Berbagai analisis hadir dalam nuansa yang penuh optimisme. Isu kebangkitan Islam pun kemudian disambut dengan gempita.</p>
<p>Awal 1980-an, fenomena jilbab menandai gairah baru kehidupan masyarakat Muslim. Kampus-kampus perguruan tinggi mulai diwarnai pemandangan keislaman yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kontroversi penggunaan jilbab di lingkungan sekolah non-pesantren seolah menjadi kendaraan yang dapat mempercepat sosialisasi jilbab ke seluruh lapisan masyarakat. Bahkan buku-buku tentang Islam, menurut salah satu survei saat itu, meningkat bersamaan dengan munculnya gairah tersebut.</p>
<p>Yang lebih menarik lagi, fenomena itu semakin tampak menjadi warna lapisan menengah sosial di Indonesia. Kerumunan ibu-ibu yang biasa mendatangi pengajian rutin di desa-desa, sejak saat itu mulai merambah kalangan menengah. Pengajian eksekutif di kantor-kantor, penyelenggaraan shalat jum’at dan tarawih di hotel-hotel berbintang kemudian menjadi fakta yang dapat menggenapkan suasana. Masjid-masjid kampus hidup memberikan spirit baru dunia kemahasiswaan, dengan tetap memelihara kedekatannya dengan kalangan pelajar dan lapisan masyarakat pada umumnya.</p>
<p>Jika sebelumnya Muslim sering diidentifikasi dengan warna-warna desa yang mencitrakan tradisionalisme kehidupan, kini Islam berubah menjadi agama kota. Agama yang menjadi identitas kelas menengah. Agama yang menjadikan komunitas para pemeluknya sebagai individu dan masyarakat maju. Anjuran Nabi untuk saling menyapa dengan ucapan “salam” pun kemudian menjadi budaya baru kehidupan kota. Jadi, pakaian dan ucapan telah mencitrakan simbol keislaman yang semakin kental menjadi “gaya hidup” hampir semua lapisan sosial.</p>
<p>Bukan hanya itu. Dalam bidang seni budaya, lagu-lagu bernuansa religius semakin digemari usia remaja. Padahal, sebelumnya, mereka lebih tertarik pada lagu-lagu yang mencerminkan budaya dan identitas masyarakat Barat. Muncullah nasyid yang kemudian banyak digemari kaula muda Muslim. Mereka seolah menemukan identitas baru yang tetap mampu memelihara citra remaja kota. Ada kecenderungan baru untuk menikmati lirik-lirik lagu yang memiliki muatan pesan-pesan Islami.</p>
<p>Riak-riak itu tampaknya terus berjalan menembus waktu. Pada pentas berikutnya, ia terbukti sanggup berubah menjadi gelombang besar. Simbol-simbol keislaman formal semakin banyak dianut oleh berbagai lapisan dan kalangan, sekaligus menjadi warna yang semakin terbuka hampir pada semua peristiwa. Di sela-sela kerumunan orang para pecandu sepak bola, misalnya, tampak di layar televisi perempuan berjilbab; dalam acara kuis yang banyak digemari masyarakat, jilbab selalu hadir di antara mereka; dan hampir dalam semua peristiwa yang melibatkan banyak orang, jilbab yang diidentifikasi sebagai bagian dari simbol dan identitas pemeluk Islam, selalu tampak menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>UNTUK</strong> sementara waktu saya sendiri hampir tidak peduli dengan berbagai komentar yang kurang membahagiakan. Bagi saya, identitas formal itu tetap memiliki arti penting. Jika gelombang itu terus berlanjut, tidak tertutup kemungkinan bila kemudian berubah menjadi budaya material yang dapat dibanggakan. Budaya orang Islam yang tetap menarik perhatian banyak kalangan. Identitas sosial yang memiliki nuansa religius, tapi tetap relevan dengan tuntutan zaman.</p>
<p>Secara kuantitatif, lapisan baru komunitas Muslim ini terus bertambah. Pilihan-pilihan aktivitas keagamaan yang tetap memenuhi selera sosial mereka juga semakin kaya. Pada musim libur sekolah, ziarah ke tanah suci kini menjadi pilihan pengisi luang. Saya kira, ini bukan pelarian. Ini adalah pilihan yang sengaja mereka ambil. Kebutuhan akan konsumsi spiritual mungkin telah menjadi prioritas di luar aktivitas rutin yang sering membuat kehidupan semakin jenuh dan membosankan. Pendek kata, fenomena ini sangat membahagiakan.</p>
<p>Tapi, seperti itulah kehidupan. Mata kita sering tidak sanggup menembus hakikat di balik fakta. Mungkin kita sulit percaya, jika di balik fenomena simbolik itu masih menyisakan makna artifisial yang memprihatinkan. Konon lagi, menurut sahabat perempuan saya yang setiap hari bekerja, semua wanita di tempat kerjanya kini telah berjilbab. Kenyataan yang menggembirakan. Tapi, ada yang tidak mudah dipahami. Kebanyakan di antara mereka selalu dalam kondisi <em>haid</em> (datang bulan). Otomatis mereka tidak bisa melaksanakan kewajiban shalat.</p>
<p>Sama halnya dengan kepadatan orang melaksanakan shalat Sunat Id hari lebaran, tapi tidak sempat melaksanakan shalat wajib lima kali sehari semalam. Banyak orang sanggup berkali-kali berhaji, tapi tak kuasa mengeluarkan sebagian hartanya untuk kaum dhuafa. Atau tega melepas kembali jilbab seusai ramai-tamai tarawih berjamaah di sela-sela kesibuikan ramadhan. Dan melepas kembali busana muslimah setelah tuntas acara<em>talkshow</em> atau main sinetron di televisi.</p>
<p>Mungkin, inilah kuantitas umat yang diilustrasikan Nabi sebagai “buih”. Menggembirakan, tapi hanya di permukaan. Atau, paling untung, dia telah berislam, tapi baru pada tataran ritual, dan belum menyentuh dimensi sosial.*</p>
<p>&#8211;<br />
warnaislam.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufikr.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufikr.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufikr.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufikr.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufikr.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufikr.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufikr.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufikr.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufikr.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufikr.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=92&subd=taufikr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/islam-ritual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3382ef7a3c8b41e8fbf1f1b8dd4268d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taufikr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengintegrasikan Sumber-Sumber Belajar</title>
		<link>http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/mengintegrasikan-sumber-sumber-belajar/</link>
		<comments>http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/mengintegrasikan-sumber-sumber-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 23:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taufikr</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/mengintegrasikan-sumber-sumber-belajar/</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata istri saya tidak sendirian, ada banyak ibu muda lain yang punya niat yang sama atas anak-anaknya. Ada di antaranya yang meminta pendapat saya sebelum mengeksekusi niatnya. Berikut ini adalah jawaban saya, kepada istri saya, kepada ibu muda lain itu, dan kepada siapapun yang bisa saja menghadapi masalah serupa.
Saya tidak berani merekomendasikan anak-anak anda untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=91&subd=taufikr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin:0 0 7px;">Ternyata istri saya tidak sendirian, ada banyak ibu muda lain yang punya niat yang sama atas anak-anaknya. Ada di antaranya yang meminta pendapat saya sebelum mengeksekusi niatnya. Berikut ini adalah jawaban saya, kepada istri saya, kepada ibu muda lain itu, dan kepada siapapun yang bisa saja menghadapi masalah serupa.</p>
<p>Saya tidak berani merekomendasikan anak-anak anda untuk menonton pertunjukan itu. Saya lebih setuju ibu membinanya untuk banyak membaca, olahraga dan terjun dalam pengalaman langsung, dalam aktivitas, bersama anak-anak muslim dan masyarakat pada umumnya.</p>
<p>Rosululloh saw membasiskan pembangunan masyarakat dari membaca, bukan menonton. Pun, bacaan-bacaan tersebut harus terintegrasi dan mengacu pada sumber belajar kita yang utama, yakni Al Qur-an dan Hadist sahih. Sekiranya berlawanan atau melalaikan, jangan diambil. Tapi,  jika tidak bertentangan &#8211; yang berarti menunjang akidah dan iman islam, atau sekurang-kurangnya tidak melalaikan kita dari mengingat Alloh, tidak melalaikan kita dari mengingat akar sosial dan kultural kita,  dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak ibu, ambillah untuk dibaca mereka.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Integrasi sumber-sumber belajar adalah wisdom atau hikmah dari hidup bertauhid, di mana sumber-sumber belajar kita satu sama lain saling menunjang. Inilah belajar dan hidup yang terintegrasi, atau belajar secara bertauhid.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Sumber-sumber belajar tersebut meliputi: orang (teman, guru, orangtua, dl), media massa (koran, majalah, buku-buku, radio, televisi, dll). Apakah sumber-sumber ini saling menunjang dalam hidup kita, mari kita evaluasi.</p>
<p>Apakah koran yang kita langgan, secara ideologis dan historis, membela dan menguatkan islam? Atau justru berada di pihak, yang secara diam-diam atau mungkin malah terang-terangan, berhadap-hadapan dengan islam &#8211; yang dengan demikian menyakiti umat islam? Juga majalah, buku-buku, radio yang kita dengar, mata acara televisi yang kita tonton, dan lain-lain.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Lihat juga siapa yang kita temani atau akrabi, apakah ia atau mereka, pilihan yang tepat yang dapat membuat akidah dan iman islam kita terjaga? Adakah itikad bersama untuk membangun iklim tawaashoubil haqqi dan tawashoubil sobr (saling mengingatkan dengan kebenaran dan menetapi kesabaran)? Atau justru saling menjerumuskan?</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Apakah membuat kita menjadi lebih mencintai saudara muslim dan memberi rahmat, kasih sayang, pada seisi alam semesta? Atau malah mendekatkan diri kita pada penentang-penentang Alloh?</p>
<p>Mengajak kita hidup lebih bersih dan mulia? Atau mengantar kita mengakrabi barang-barang dan kegiatan-kegiatan yang syubat, bahkan haram?</p>
<p>Mengajak kita menggunakan dunia untuk memperjuangkan akhirat? Atau cuma melangutkan kita dengan kesenangan-kesenangan semu dan sesaat yang kering dari nilai ukhrowi?</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Lingkungan adalah variabel yang menentukan pembentukan kepribadian manusia. Jauh sebelum penelitian-penelitian sampai kepada tesa ini, Rosululloh saw sudah mengisyaratkan pentingnya lingkungan. Beliau berkata, sebagaimana diriwayatkan Ahmad dan At-Tirmidzi, bahwa agama seseorang &#8211; termasuk kualitas beragamanya, bergantung pada siapa yang ia pergauli, maka masing-masing muslim diminta untuk mencermati siapa yang diakrabi.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Lihat juga komunitas kita, tempat kita bercengkerama, bahkan apa yg kita makan: terjaminkah kehalalannya? Atau tanpa sadar kita masih menyantap makanan-makanan yang syubat?</p>
<p>Singkatnya, pemilihan atau seleksi atas semua variabel lingkungan yang berinteraksi dengan hidup harus kita dasarkan pada rujukan puncak,  yakni: al-Qur&#8217;an dan Hadist sahih. Inilah acuan dasar kita untuk mengenali anasir-anasir yang akan terus ada dan berlawanan sepanjang hidup manusia: tauhid&gt;</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Lawan dari sumber-sumber belajar yang terintegrasi adalah sumber-sumber belajar yang acak, tidak menunjukkan struktur dan kesatuan, tidak saling menunjang, centang-perenang, bahkan saling merubuhkan &#8211; karena dipilih berdasarkan pedoman yang kacau, atau memang tidak berpedoman.</p>
<p>Kondisi belajar demikian ini akan menghasilkan manusia dengan &#8216;kekacauan ideologi&#8217;, di mana banyak konsep-konsep &#8216;tampak benar&#8217; berkecamuk di benaknya, yang cenderung saling berbenturan.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Pribadi yang mengalami kekacauan ideologi, niscaya adalah pribadi yang &#8216;pecah&#8217;, gamang dan bingung dalam mengenali kebenaran. Maka ketahuilah, gamang adalah karakter yang menguntungkan musuh-musuh islam. Mereka itu, tidak perlu membuat kita secara formal murtad, cukup membuat muslim itu gamang, itu sudah setengah lebih dari kemenangan.</p>
<p>Mengapa? Sebab kegamangan membedakan kebenaran dari anasir kebathilan akan menumbuhkan sifat: pesimis, ragu-ragu, pengecut, apatis, oportunis, tidak peka, dalam mengidentifikasi dan mengambil sikap terhadap kebathilan. Jika seorang muslim sudah dihinggapi sifat-sifat demikian ini, maka lebih mudahlah ia dipalingkan dari islam. Bahkan, sekalipun secara formal ia masih muslim, boleh jadi telah mulai tanggallah islam dari jiwanya.</p>
<p>Lihatlah contoh segar baru-baru ini, ketika undang-undang anti pornografi dirancang, tidakkah kita mengenali adanya pihak-pihak, media-media, yang dengan gencar menekuk-nekuk kebenaran dengan keindahan retorika, bahasa keminter, untuk membuat kita (muslim), menjadi apatis, gamang, ambigu, dan membuat kebenaran tampak begitu rumitnya?</p>
<p>Lihatlah hasilnya. Banyak saudara-saudara muslim yang menjadi bersikap demikian itu, bahkan tidak sedikit yang mengambil sikap berseberangan (kontra) terhadap undang-undang tersebut.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Itulah yang dikerjakan musuh-musuh islam melalui berbagai media yang menjadi komprador mereka: membentuk pribadi-pribadi yang gamang pada kebenaran. Inilah yang dalam islam disebut &#8216;perang pemikiran&#8217; dengan media dan berbagai bentuk sumber belajar sebagai instrumennya.</p>
<p>Semoga Alloh swt memberi kita kemampuan untuk mengenali kebenaran, dan kemampuan untuk memperjuangkannya. Dan semoga Alloh swt memberi kita kemampuan mengenali kebathilan, dan kemampuan untuk melawannya. Barokalloohu fiik. Wassalamu&#8217;alaikum. (<strong>Ahmad Antawirya).</strong>*</p>
<p style="margin:0 0 7px;">
<p style="margin:0 0 7px;">&#8211;<br />
warnaislam.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufikr.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufikr.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufikr.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufikr.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufikr.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufikr.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufikr.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufikr.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufikr.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufikr.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=91&subd=taufikr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/mengintegrasikan-sumber-sumber-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3382ef7a3c8b41e8fbf1f1b8dd4268d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taufikr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiat Menulis Artikel Dakwah</title>
		<link>http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/kiat-menulis-artikel-dakwah/</link>
		<comments>http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/kiat-menulis-artikel-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 23:05:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taufikr</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufikr.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Membaca tanpa menulis, ibarat memiliki harta dibiarkan menumpuk tanpa dimanfaatkan. Menulis tanpa membaca, ibarat mengeduk air dari sumur kering. Tidak membaca dan juga tidak menulis, ibarat orang tak berharta jatuh ke dalam sumur penuh air&#8221; (Gordon Smith, politikus Inggris, abad 18).
Membaca dan menulis ibarat sisi mata uang. Saling menunjang peran dan fungsi masing-masing. Salah besar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=89&subd=taufikr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin:0 0 7px;">&#8220;Membaca tanpa menulis, ibarat memiliki harta dibiarkan menumpuk tanpa dimanfaatkan. Menulis tanpa membaca, ibarat mengeduk air dari sumur kering. Tidak membaca dan juga tidak menulis, ibarat orang tak berharta jatuh ke dalam sumur penuh air&#8221; (<strong>Gordon Smith</strong>, politikus Inggris, abad 18).</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Membaca dan menulis ibarat sisi mata uang. Saling menunjang peran dan fungsi masing-masing. Salah besar pendapat orang yang menganggap membaca dan menulis membuang-buang waktu. Membaca dan menulis adalah pekerjaan besar bagi orang-orang berperadaban dan mengetahui manfaat membaca dan menulis dalam mengembangkan kemajuan peradaban.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Hanya saja, mayoritas bangsa kita masih awam dalam soal membaca dan menulis. Alasannya, tidak punya waktu. Padahal dalam sehari-semalam banyak orang membuang-buang waktu tak karuan. Seperti nongkrong di pinggir jalan, ngobrol di gardu ronda, melamun memeluk lutut, dan sebagainya.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Membaca dan menulis dianggap bukan professi penting. Dianggap tidak menghasilkan. Berbeda dengan dagang, kuli, menjadi PNS, debt colector, atau pekerjaan lain yang tidak membutuhkan membaca dan menulis.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Ditambah kurangnya dukungan infrastruktur yang mendorong kemajuan pekerjaan membaca dan menulis. Harga buku mahal (padahal dibandingkan dengan harga kaset, CD, DVD, harga buku lebih murah). Menulis membutuhkan enerji khusus (padahal berolahraga lebih membutuhkan enerji khsus dalam bentuk makanan-minuman suplemen yang tidak murah). Perpustakaan juga sangat kurang. Jangankan perpustakaan pribadi, perpustakaan umum pun, nyaris tidak ada di sembarang tempat. Kalaupun ada, kesannya angker, birokrasinya rumit, koleksinya kurang dan &#8220;out of date&#8221;. Bandingkan dengan kondisi negara besar seperti Amerika Serikat, pada abad 18 saja, para penduduk pedesaan rata-rata sudah memiliki perpustakaan pribadi di rumah masing-masing.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Pada kesempatan ini, akan diuraikan kiat-kiat sederhana tentang membaca dan menulis.Tentu saja, menulis akan mendapat prosi lebih besar, karena soal membaca, kiranya para peserta Diklat sudah terbiasa. Mungkin dalam intensitas saja yang perlu peningkatan.</p>
<p style="margin:0 0 7px;"><strong>JIKA</strong> membaca sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi tuntutan, akan muncul keinginan menulis. Segala sesuatu yang dibaca akan merangsang pendapat kita, baik yang berlawanan maupun yang sejalan dengan isi tulisan. Jika selama atau sesudah membaca sebuah tulisan, timbul perasaan &#8220;saya juga bisa&#8221; atau &#8220;ah, pendapat ini salah&#8221;, Insya Allah, bibit kepenulisan mulai mekar berkembang, dan perlu penyaluran segera. Jangan dibatasi dengan &#8220;ingin menulis&#8221; tanpa pernah mencobanya satu kali pun.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Kedua, menumbuhkan kegemaran dan keterampilan menulis. Langkah-langkah ke arah itu, adalah sebagai berikut :</p>
<p style="margin:0 0 7px;">1. Tulislah apa yang ingin kita tulis pada waktu keinginan itu tiba-tiba muncul. Jangan dibiarkan menunggu hingga keinginan itu lenyap kembali. Calon penulis professional akan selalu menyiapkan catatan atau skema singkat, apabila keinginan menulis tiba-tiba muncul. Keinginan menulis tiba-tiba, berupa embrio apa-apa yang akan ditulis, disebut juga ilham, atau apa saja namanya, akan muncul di mana saja. Di perjalanana, di tempat kerja, di bus kota, di warteg atau di WC. Secarik kertas yang tersedia di saku kemeja mungkin akan menjadi penampung terpenting pertama dalam situasi dan kondisi mendadak. Atau ingatan yang kuat ikut berperan sebagai terminal gagasan.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">2.Luangkan waktu khusus untuk menuliskan apa-apa yang sudah tercatat atau terpikirkan.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">3.Jika waktu luang sudah ada, gagasan dan ilham sudah berhasil dituangkan, maka jadilah Anda seorang bakal penulis. Selamat.</p>
<p style="margin:0 0 7px;"><strong>SELUK</strong>-beluk menulis dan tulisan.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Tulisan terdiri dari bentuk dan isi. Bentuk adalah paparan, uraian, penyampaian gagasan melalui susunan kata dan kalimat. Isi adalah gagasan, pendapat, keinginan, usul, saran yang kita kemukakan lewat tulisan tadi.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Dilihat dari bentuk dan isinya, tulisan terdiri dari dua jenis :</p>
<p style="margin:0 0 7px;"><strong><em>1.Fiksi </em></strong>: tulisan berdasarkan imajinasi, hayalan. Namu tetap berpijak kepada gagasan nyata. Disampaikan dalam rangkaian kata dan kalimat yang penuh &#8220;bunga&#8221; gaya bahasa. Penuh metafore, personifikasi, hyperbol, bombasme dan sebagainya yang dikategorikan bahasa &#8220;sastra&#8221;. Tulisan fiksi meliputi prosa (ceritera pendek, novel, roman), dan puisi (sajak, lirik, nyanyian).</p>
<p style="margin:0 0 7px;"><strong><em>2.Non-fiksi</em></strong> : tulisan berdasarkan data dan fakta. Disampaikan dalam bahasa lugas, tidak menggunakan &#8220;gaya bahasa sastra&#8221;, walaupun mungkin pada sebagian menampilkan kesan &#8220;sastra&#8221;. Terutama pada tulisan berbentuk essey.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Yang termasuk tulisan non-fiksi, adalah berita, reportase, essey, artikel opini, artikel ilmiah. Tulisan non-fiksi, bermuatan informasi tertentu (orang tertabrak kerataapi, peristiwa kebakaran, peledakan bom,dlsb.) yang dikemas dalam berita, atau reportase hasil liputan para jurnalis yang terikat oleh kaidah 5 W (What, Why, When, Where, Who) plus 1 H (How), analisa (pada karya ilmiah dan semi ilmiah), serta pandangan penulisnya mengenai satu atau berbagai hal (pada artikel opini).</p>
<p style="margin:0 0 7px;"><strong>URAIAN</strong> di atas merupakan patokan penulisan naskah bersifat umum. Untuk menulis naskah keagamaan, dapat diperkecil ruang lingkupnya sebagai berikut :</p>
<p style="margin:0 0 7px;">1.Naskah keagamaan bersifat khusus. Menguraikan masalah-masalah fiqih (thaharah, shalat, zakat, saum, haji, mengurus jenazah, dll.), syaraf-nahwu, ulumut tafsir, dll. sebagai bahan ajar di sekolah/madrasah/pesantren.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">2.Naskah keagamaan bersifat umum. Menguraikan berbagai fenonema sosial, politik, budaya, ekonomi, berdasarkan sudut pandang agama. Dalam hal ini, Islam.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Jenis yang kedua inilah yang dimaksud dengan naskah keagamaan. Inilah yang disebut artikel dakwah</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Setiap tulisan, apalagi tulisan keagamaan atau artikel dakwah, mutlak harus mengacu kepada petunjuk al Quran dan Sunnah Rasululhah Saw. Yaitu mengandung berita yang baik dan benar sesuai dengan missinya mengabarkan sesuatu (Q.san Naba), mencari dan mengetengahkan informasi (Q.s.al Anbiya : 77).</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Maka di dalam mengumpulkan bahan-bahan untuk artikel dakwah, baik melalui referensi bacaan, maupun wawancara, harus benar-bnar terarah, fokus pada pokok permasalahan dan jelas (Q.s.al Maidah : 101), harus dicek and ricek (Q.al Hujurat:6), bersih dari sikap intimidasi, menakut-nakuti (Q.s.an Nisa : 94), dan menjauhi prasangka buruk (Q.s.alHujurat: 12).</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Artikel dakwah tidak mengandung dan mengundang fitnah yang memutus silaturahim. Sebab pemutusan silaturahim akan menghilangkan rahmat Allah SWT. Sabda Nabi Saw :<em>Inna rahmatan la tanzil ala qaumin qath&#8217;urrahim</em>.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Kalau menjadi bahan polemik (perang pendapat secara tertulis atau &#8220;perang pena&#8221;), tidak mejadi masalah, asal tidak ke luar dari prinsip &#8220;bil hikmah, wal maudzatil hasanah, wa jadilhum billati hiya ahsan&#8221; (Q.s.an Nahl : 25).</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Kata orang Inggris, never put til tomorrow, what can you do today. Mengapa menulis artikel dakwah tidak dimulai hari ini ? Jangan tangguhkan hingga besok.***</p>
<p style="margin:0 0 7px;"><strong>* H.Usep Romli HM, </strong><em>wartawan senior &#8220;PR&#8221;, penulis, sastrawan/budayawan.</em></p>
<p style="margin:0 0 7px;">
<p style="margin:0 0 7px;">&#8211;<br />
<em>Sumber: warnaislam.com</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufikr.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufikr.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufikr.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufikr.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufikr.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufikr.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufikr.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufikr.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufikr.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufikr.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=89&subd=taufikr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/kiat-menulis-artikel-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3382ef7a3c8b41e8fbf1f1b8dd4268d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taufikr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Da&#8217;wah Lewat Media Tulis</title>
		<link>http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/dawah-lewat-media-tulis/</link>
		<comments>http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/dawah-lewat-media-tulis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 23:02:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taufikr</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufikr.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kehidupan sehari-hari, istilah dakwah hampir dimaknai identik dengan ceramah, khutbah, atau sejenisnya. Jarang orang menyebut dakwah terhadap kegiatan seorang kolumnis, wartawan, atau pembuat karya tulis lainnya. Terhadap Kyai Arifin Ilham yang mampu membuat audien menangis ketika mengikuti uraian ceramahnya di suatu mesjid, tanpa harus berpikir panjang, orang gampang saja menyebutnya sebagai seorang da&#8217;i. Tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=87&subd=taufikr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin:0 0 7px;">Dalam kehidupan sehari-hari, istilah dakwah hampir dimaknai identik dengan ceramah, khutbah, atau sejenisnya. Jarang orang menyebut dakwah terhadap kegiatan seorang kolumnis, wartawan, atau pembuat karya tulis lainnya. Terhadap Kyai Arifin Ilham yang mampu membuat audien menangis ketika mengikuti uraian ceramahnya di suatu mesjid, tanpa harus berpikir panjang, orang gampang saja menyebutnya sebagai seorang da&#8217;i. Tapi tidak pada seorang Eddy D. Iskandar meskipun kenyataannya lebih banyak lagi audien yang menangis ketika membaca karya tulisnya yang dibuat dalam bentuk novel.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Padahal, jika dakwah itu secara sederhana dimaksudkan sebagai usaha seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mampu melakukan perubahan, baik pikiran, perasaan, sikap maupun perilakunya, maka apapun bentuk kegiatannya, termasuk menulis, seorang kolumnis pun bisa disebut da&#8217;i. Melalui karya tulisnya, seorang penulis akan berusaha mempengaruhi para pembacanya sehingga mampu menyentuh audien dalam jumlah yang bisa melebihi para pendengar ceramah akbar sekalipun.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Para penulis juga sebetulnya selalu terlibat dalam kegiatan dakwah. Bahkan usia dakwah tulisan akan jauh lebih panjang dibanding dakwah lisan. Bayangkan, untuk menyampaikan ceramah lisan secara langsung di hadapan para jamaah, seorang Hamka kini tidak mungkin lagi bisa melakukan dakwah, karena memang telah tiada. Tapi melalui media tulis, Hamka hingga saat ini masih tetap &#8220;hidup&#8221; menyampaikan pesan-pesan dakwahnya.<em>Tafsir Al-Azhar </em>masih hadir di ruang-ruang kuliah dan pengajian; dan <em>Di Bawah Lindungan Ka&#8217;bah </em>pun masih tetap lincah mengajak para jamaah merenungkan pesan-pesan moral yang tertata apik dan menggairahkan. Hamka telah tiada, tapi dakwahnya masih tetap hidup mengunjungi para jamaah.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Bukan hanya usianya yang lebih panjang. Tapi media tulis juga memiliki kelebihan yang sulit diimbangi oleh media lisan lainnya, termasuk media elektronik. Beberapa riset komunikasi massa memperlihatkan fakta yang menarik di seputar efek media cetak. Media tulis, salah satunya, ternyata memiliki kekuatan luar biasa dalam mengendalikan perilaku khalayak. Efek psikologisnya memiliki dampak yang lebih permanen dibanding media massa lainnya.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Ada beberapa kelebihan media tulis jika dibandingkan dengan media lisan, termasuk dalam kegiatan berdakwah. Salah satunya adalah bahwa media tulis umumnya memiliki struktur paparan yang lebih rapih dibanding media lisan. Pesan-pesan yang dirangkai dalam tulisan dapat dirumuskan secara lebih hati-hati, sehingga jika sewaktu-waktu penulis melakukan kesalahan pada saat menulis, ia dapat memperbaikinya sebelum dibaca oleh pembaca. Sebaliknya seorang khotib yang melakukan kesalahan ketika menyampaikan khutbah, akan sulit memperbaiki sebelum pesan itu didengar oleh para pendengarnya.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Media tulis juga dapat dipikirkan ulang ketika sewaktu-waktu ditemukan pembacanya ada hal-hal yang sulit dipahami. Sebuah karya tulis dapat disimpan sementara, untuk kemudian dibaca kembali jika diperlukan. Bahkan, jika sewaktu-waktu diperlukan, karya tulis juga dapat diulang-ulang dibaca, sehingga proses internalisasi pesan di kalangan para pembacanya memiliki peluang yang lebih besar, bila dibanding dengan proses penyampaian pesan yang hanya sepintas diterima. Jika ditemukan istilah asing yang belum dipahami maknanya, seorang pembaca dapat dengan leluasa membuka kamus terlebih dahulu. Padahal jika istilah asing itu diperoleh ketika mengikuti ceramah lisan, seorang pendengar akan menemukan kesulitan untuk memperoleh penjelasan makna sehingga akan mengaburkan substansi pesan secara keseluruhan.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Karena itu, pesan-pesan media tulis secara umum memiliki efek yang lebih besar dibanding media lisan. Sebuah survey komunikasi memperlihatkan bahwa pesan-pesan yang disajikan dalam buku (seperti novel, komik, dan sejenisnya) dan majalah ternyata memiliki efek psikologis yang lebih besar dibanding film dan radio yang hanya dikonsumsi melalui indera pendengaran. Salah satu alasannya adalah karena media cetak (seperti koran dan majalah) memiliki tingkat kedekatan <em>(proximity)</em> yang lebih besar dibanding media elektronik (seperti radio dan bahkan televisi).</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Selain kelebihan-kelebihan di atas, memang ada kelemahan yang tidak bisa ditawar-tawar. Media tulis mensyaratkan kemampuan membaca audiennya. Seorang buta aksara tidak akan mampu secara langsung menikmati paparan seorang kolumnis yang setiap pagi datang lewat koran dan majalah. Tapi tentu ia dapat menikmati suara merdu seorang penyiar yang juga hadir setiap saat lewat radio. Jika datang ke masjid untuk melakukan shalat jum&#8217;at, seorang buta aksara hanya memperoleh satu kenikmatan, yaitu pesan-pesan khotib di atas mimbar. Tapi mereka yang terampil membaca, akan memperoleh paling tidak dua kenikmatan: khotib di atas mimbar dan lembaran jum&#8217;at yang kini tersedia hampir di semua masjid.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Di samping kelebihan dan kekurangan media tulis seperti disebutkan di atas, tulisan juga kini dapat menjadi alternatif pemecahan ketika masyarakat sudah tidak mampu lagi meluangkan waktu untuk menghadiri pengajian, mengikuti dakwah-dakwah Islam yang disampaikan dalam bentuk ceramah lisan di masjid-masjid. Proses perubahan pola kerja masyarakat kini telah menyita hampir seluruh waktu bangun mereka. Akibatnya, mereka mulai kehilangan kesempatan untuk menghadiri acara-acara dakwah Islam yang biasa diselenggarakan hampir pada setiap momentum kegiatan dan peringatan-peringatan di negeri ini. Ketidakmampuan mereka untuk menghadiri kegiatan dakwah bukan saja diakibatkan oleh makin sempitnya waktu, tapi juga karena makin terbatasnya tenaga dan membanjirnya pekerjaan.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Alternatifnya, kini diperlukan pola penyampaian dakwah Islam yang tidak terlalu menuntut masyarakat hadir secara langsung. Dan, salah satu solusinya, dakwah disampaikan melalui media tulis. Dengan begitu, dakwah dapat berjalan terus meskipun kesempatan mereka telah tersita seluruhnya. Dakwah melalui media tulis akan tetap datang mengunjungi mereka yang sedang istirahat di rumahnya masing-masing. Mereka bisa tetap menikmati sajian dakwah Islam, tanpa harus meninggalkan pertemuan keluarga selepas makan malam.</p>
<p style="margin:0 0 7px;">Tapi, tuntutannya adalah, kini semakin dibutuhkan para juru dakwah tulisan. Sebab corak dan gaya paparan tertulis tidak selalu sama dengan corak dan gaya paparan lisan. Apa yang enak didengar, belum tentu enak juga dibaca.*</p>
<p style="margin:0 0 7px;">
<p style="margin:0 0 7px;">&#8211;<br />
Sumber: http://www.warnaislam.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufikr.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufikr.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufikr.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufikr.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufikr.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufikr.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufikr.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufikr.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufikr.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufikr.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=87&subd=taufikr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufikr.wordpress.com/2009/10/13/dawah-lewat-media-tulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3382ef7a3c8b41e8fbf1f1b8dd4268d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taufikr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sudahkah kita Ikhlas ?</title>
		<link>http://taufikr.wordpress.com/2009/08/12/sudahkah-kita-ikhlas/</link>
		<comments>http://taufikr.wordpress.com/2009/08/12/sudahkah-kita-ikhlas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 09:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taufikr</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufikr.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ ، عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْر، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=67&subd=taufikr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ ، عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْر، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِى النَّارِ [رواه مسلم].</p>
<p>Dari Abu Hurairah; Abdurrahman bin Shakhr , berkata; Aku mendengar Rasulullah bersabda; Sesungguhnya manusia yang pertama-tama diadili pada hari kiamat kelak adalah seorang yang mati syahid.Dia akan dihadapkan pada nikmat-nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan itu semua?’ `Aku telah berperang demi Engkau, hingga aku mati syahid. (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau berperang agar disebut sebagai orang yang pemberani.’ Dan kau telah disebut sebagai pemberani Kemudian Allah memerintahkan (malaikat) untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.</p>
<p>Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al Qur’an. Dia didatangkan kemudian diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kau perbuat dengannya ?” Maka dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena-Mu.” Allah berfirman, ”Engkau dusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim. Engkau membaca Qur’an supaya disebut sebagai Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”</p>
<p>Kemudian ada seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. Dia didatangkan dan diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya?” Dia menjawab, “Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakkan harta di jalan-Mu kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan engkau sudah memperolehnya.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. (HR Muslim)</p>
<p>Astaghfirullohaladziim..<br />
Ya Allah karuniakan kepada kami keikhlasan, amiin Yaa Robb..</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufikr.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufikr.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufikr.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufikr.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufikr.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufikr.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufikr.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufikr.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufikr.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufikr.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=67&subd=taufikr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufikr.wordpress.com/2009/08/12/sudahkah-kita-ikhlas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3382ef7a3c8b41e8fbf1f1b8dd4268d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taufikr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al Quran yang menakjubkan (Keseimbangan)</title>
		<link>http://taufikr.wordpress.com/2009/08/12/al-quran-yang-menakjubkan-keseimbangan/</link>
		<comments>http://taufikr.wordpress.com/2009/08/12/al-quran-yang-menakjubkan-keseimbangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 02:17:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taufikr</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Al Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufikr.wordpress.com/2009/08/12/al-quran-yang-menakjubkan-keseimbangan/</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh menarik data yang dikemukakan oleh Dr. Tariq Al Swaidan, berikut ini :
Beliau menemukan sejumlah versi di dalam Al Quran yg menyebutkan satu persoalan yang sama dengan yang lainnya, misalnya laki-laki sama dengan wanita.
Meskipun hal ini dipandang dari tata bahasa, namun fakta yang menakjubkan adalah bahwa kata laki-laki dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 24 kali dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=66&subd=taufikr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sungguh menarik data yang dikemukakan oleh Dr. Tariq Al Swaidan, berikut ini :</p>
<p>Beliau menemukan sejumlah versi di dalam Al Quran yg menyebutkan satu persoalan yang sama dengan yang lainnya, misalnya laki-laki sama dengan wanita.<br />
Meskipun hal ini dipandang dari tata bahasa, namun fakta yang menakjubkan adalah bahwa kata laki-laki dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 24 kali dan wanita juga disebutkan 24 kali.</p>
<p>Susunan kata ini tidak hanya benar dalam nilai struktur bahasa, tapi juga menunjukkan kebenaran secara matematik, misal 24=24.</p>
<p>Saudaraku<br />
Berdasarkan analisis lebih mendalam dari beberapa versi, bahwa kejadian ini terlihat konsisten pada keseluruhan Al-Quran.<br />
Lihatlah bukti yg menakjubkan dari jumlah kata-kata dalam Al-Quran (versi bahasa arab) berikut ini:</p>
<p>1. Dunia (kehidupan sekarang) disebutkan 115 kali. Akhirat( kehidupan setelah dunia ini) disebutkan 115 kali.</p>
<p>2. Malaikat 88 kali, syaitan 88 kali.<br />
3. Kehidupan 145 kali, kematian 145 kali.<br />
4. Kebaikan/manfaat 50 kali, jahat 50 kali.<br />
5. Orang-orang 50 kali, nabi 50 kali.<br />
6. Iblis(raja syaitan) 11 kali, menyelamatkan diri dari iblis 11 kali.<br />
7. Musibah (bencana) 75 kali, syukur 75 kali.<br />
8. Sodaqoh/sedekah 75 kali, kepuasan 75 kali.<br />
9. Orang-orang yang tersesat 17 kali, syuhada 17 kali.<br />
10. Muslimin 41 kali, jihad 41 kali.<br />
11. Emas 8 kali, kehidupan yg mudah 8 kali.<br />
12. Sihir 60 kali, fitnah 60 kali.<br />
13. Zakat 32 kali, barokah 32 kali.<br />
14. Pikiran 39 kali, cahaya 39 kali.<br />
15. Lidah 25 kali, khotbah 25 kali.<br />
16. Harapan 8 kali, ketakutan/kecemasan 8 kali.<br />
17. Berbicara di depan publik 18 kali, pempublikasian 18 kali.<br />
18. Penderitaan 114 kali, kesabaran 114 kali.<br />
19. Muhammad 4 kali, syari&#8217;ah (ajaran Rasulullah saw) 4 kali.<br />
20. Laki-laki 24 kali, wanita 24 kali.</p>
<p>Dari Rizki Abdurrazaq Ferdian, Netherland.<br />
(a message from ESQ 165 International Community,Abi Zakky Setiawan)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufikr.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufikr.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufikr.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufikr.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufikr.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufikr.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufikr.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufikr.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufikr.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufikr.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=66&subd=taufikr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufikr.wordpress.com/2009/08/12/al-quran-yang-menakjubkan-keseimbangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3382ef7a3c8b41e8fbf1f1b8dd4268d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taufikr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibu..</title>
		<link>http://taufikr.wordpress.com/2009/08/05/ibu/</link>
		<comments>http://taufikr.wordpress.com/2009/08/05/ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 03:42:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taufikr</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufikr.wordpress.com/2009/08/05/ibu/</guid>
		<description><![CDATA[Ibu..
Ibuku.. oh .. ibu&#8230;
Betapa ikhlas kau menyayangiku
Jiwamu tulus memeliharaku
Tiada mengharap mengharap balasanku
Ya Allah Tuhanku..
Bukakanlah pintu ampunan-Mu
Curahilah dia dengan rahmad-Mu
Dia merawatku sejak kecilku
Oh ibu.. kini aku jauh darimu
Ingin ku luruh di pangkuanmu&#8230;
Rengkuhlah aku dengan doa malammu
S&#8217;moga Dia membimbing langkahku
Oh ibu.. kini air mataku berderai
Rindu belai kasih sayangmu
Dengan ketulusan hati yang dalam
Maafkanlah anakmu ini&#8230;..
Ibu Doakanlah
ibu doakanlah ku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=65&subd=taufikr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ibu..</p>
<p>Ibuku.. oh .. ibu&#8230;<br />
Betapa ikhlas kau menyayangiku<br />
Jiwamu tulus memeliharaku<br />
Tiada mengharap mengharap balasanku</p>
<p>Ya Allah Tuhanku..<br />
Bukakanlah pintu ampunan-Mu<br />
Curahilah dia dengan rahmad-Mu<br />
Dia merawatku sejak kecilku</p>
<p>Oh ibu.. kini aku jauh darimu<br />
Ingin ku luruh di pangkuanmu&#8230;<br />
Rengkuhlah aku dengan doa malammu<br />
S&#8217;moga Dia membimbing langkahku</p>
<p>Oh ibu.. kini air mataku berderai<br />
Rindu belai kasih sayangmu<br />
Dengan ketulusan hati yang dalam<br />
Maafkanlah anakmu ini&#8230;..</p>
<p>Ibu Doakanlah<br />
ibu doakanlah ku akan melangkah<br />
menyusuri waktu menjemput citaku<br />
ibu lepaskanlah ku ke laut biru<br />
akan kuarungi akan kuseberangi</p>
<p>ibu doakanlah ku sedang melangkah<br />
menjalani hari menjemput harapku<br />
ibu lepaskanlah ku dengan maafmu<br />
tentramkan hatiku menempuh hidupku</p>
<p>doamu oh ibu selalu kunanti<br />
tulus dan suci dari relung hati<br />
doamu oh ibu selalu kunanti<br />
mohonkanlah Allah Rabbi besertakan selalu..</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufikr.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufikr.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufikr.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufikr.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufikr.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufikr.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufikr.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufikr.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufikr.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufikr.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=65&subd=taufikr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufikr.wordpress.com/2009/08/05/ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3382ef7a3c8b41e8fbf1f1b8dd4268d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taufikr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>the only One I need</title>
		<link>http://taufikr.wordpress.com/2009/07/07/the-only-one-i-need/</link>
		<comments>http://taufikr.wordpress.com/2009/07/07/the-only-one-i-need/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 08:12:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taufikr</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufikr.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Now, when you set out on a journey, you may take along a heavy lunch basket. After a while you might leave behind some of the things you are carrying and say, “Oh, we don’t want to be loaded down with these,” but you will still hold on to your food. As you progress further, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=63&subd=taufikr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Now, when you set out on a journey, you may take along a heavy lunch basket. After a while you might leave behind some of the things you are carrying and say, “Oh, we don’t want to be loaded down with these,” but you will still hold on to your food. As you progress further, even that begins to feel heavy. “All right,” you say, “let’s eat some of this now and throw the rest away.” But then you think, “We must at least bring the water.” Soon that also becomes heavy, and you might say, “Aiyo, aiyo, even this water is too heavy to carry! I can’t walk!” Then you discard the water to make your load still lighter. Next the coat you are wearing to protect you from the cold begins to be burdensome, and so you throw that away too. You continue walking with just a flimsy shawl over your shoulders, but soon even the shawl is too much. So you throw that off and walk on. After a while, swear starts pouring down your face, so you have to take off your shirt and leave that behind also. Next the shoes you are wearing to protect your feet become a nuisance, so you kick them off. Now you are walking in your socks. But even they feel like a burden, sticking, itching, and annoying you in all sorts of ways. So, you pull them off. Then the hat on your head becomes a dead weight. Because you are suffering under that weight, you get rid of it. Now all you have left is a loincloth to cover your backside. With only that small loincloth you suffer and struggle on until you reach the end of your journey. That is how it must be done. But there is still more. As you go even further wearing just the loincloth, you will cut away the attachments you have to everyone and everything.</p>
<p>In this way, one by one, you must discard all of the things you have acquired for yourself. This is what you must do on the journey to God. Then you will say, “Oh, now everything is gone. I have given up everything. God, you are the only One for me, the only One I need.”</p>
<p>Then God will come and lift you up, saying, “Come, come.” He will lift you up and say, “Hold My hand, I will take you.” And He will take you. So do not be discouraged. You still have time. But keep walking. Do not stand still. Up until this time, you have been carrying so many dead weights, so many burdens. Only when they all have dropped away from you will God appear, saying, “Come,” and take you along.</p>
<p>(YM)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufikr.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufikr.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufikr.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufikr.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufikr.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufikr.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufikr.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufikr.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufikr.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufikr.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=63&subd=taufikr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufikr.wordpress.com/2009/07/07/the-only-one-i-need/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3382ef7a3c8b41e8fbf1f1b8dd4268d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taufikr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sharing File Bermanfaat</title>
		<link>http://taufikr.wordpress.com/2009/06/28/sharing-file-bermanfaat/</link>
		<comments>http://taufikr.wordpress.com/2009/06/28/sharing-file-bermanfaat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 08:21:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taufikr</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufikr.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Yang ingin dibagi dan berbagi File yang bermanfaat, bagus, berguna, silahkan gabung disini, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat 
File yang sudah diupload ada DISINI
Saya ingin berbagi file yang saya miliki di Hardrive
request file bisa gabung dulu DISINI
Silahkan kalau ada masukan
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=61&subd=taufikr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Yang ingin dibagi dan berbagi File yang bermanfaat, bagus, berguna, silahkan gabung disini, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
File yang sudah diupload ada <a href="http://sharing-file-bermanfaat.blogspot.com">DISINI</a></p>
<p>Saya ingin berbagi file yang saya miliki di Hardrive<br />
request file bisa gabung dulu <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=94002090807">DISINI</p>
<p></a>Silahkan kalau ada masukan</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufikr.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufikr.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufikr.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufikr.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufikr.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufikr.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufikr.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufikr.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufikr.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufikr.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=61&subd=taufikr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufikr.wordpress.com/2009/06/28/sharing-file-bermanfaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3382ef7a3c8b41e8fbf1f1b8dd4268d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taufikr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAHASA CINTA</title>
		<link>http://taufikr.wordpress.com/2009/06/28/bahasa-cinta/</link>
		<comments>http://taufikr.wordpress.com/2009/06/28/bahasa-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 04:25:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taufikr</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufikr.wordpress.com/2009/06/28/bahasa-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Ibuku bukanlah orang yang berpendidikan tinggi, atau orang yang
menguasai banyak hal dan berbicara dalam banyak bahasa. Itu menurutku,
tidak penting. Sebab ada satu hal yang membuat ia menjadi sangat
istimewa, satu hal yang sering lalai ku sadari: ia menguasai bahasa
cinta.
Tetapi itu tidak berarti ibuku berbicara tentang cinta padaku secara
verbal. Ibuku juga tak pernah secara langsung menyatakan bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=59&subd=taufikr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ibuku bukanlah orang yang berpendidikan tinggi, atau orang yang<br />
menguasai banyak hal dan berbicara dalam banyak bahasa. Itu menurutku,<br />
tidak penting. Sebab ada satu hal yang membuat ia menjadi sangat<br />
istimewa, satu hal yang sering lalai ku sadari: ia menguasai bahasa<br />
cinta.</p>
<p>Tetapi itu tidak berarti ibuku berbicara tentang cinta padaku secara<br />
verbal. Ibuku juga tak pernah secara langsung menyatakan bahwa ia<br />
sayang padaku atau ia sungguh2 mencintai aku. Dan ku kira, ini pasti<br />
dikarenakan latar belakang budaya timur yang tidak lazim mengenal<br />
pengungkapan perasaan secara verbal.</p>
<p>Tetapi ketika ia dengan segera menyiapkan sepiring nasi ketika ia tahu<br />
aku hendak makan dan itu ia lakukan tanpa menanti permintaan atau<br />
persetujuan dariku (dan jujur saja, kadang2 ini membuatku risih karena<br />
aku merasa diperlakukan seperti anak kecil). Atau setiap pagi ia<br />
bangun paling awal untuk menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga,<br />
menyiapkan dan membawakan makanan kecil ketika aku sedang asyik<br />
menonton tv, aku tahu, ia sedang berbicara bahasa cinta melalui itu<br />
semua. Ia sedang berbicara padaku tentang kepeduliannya, tentang cinta<br />
dan rasa sayangnya padaku.</p>
<p>Akan halnya ayahku, tidak berbeda jauh. Meskipun harus ku akui<br />
terkadang aku merasa benci setengah mati terhadapnya, terhadap<br />
kekeraskepalaannya, kecenderungannya untuk mencari kambing hitam dan<br />
ketidaksportifannya, aku tahu, ia pun menguasai bahasa cinta pula.</p>
<p>Ia memang tidak pernah menyiapkan sarapan atau menyediakan nasi<br />
untukku, tetapi ia menunjukkan rasa cintanya sebagai seorang ayah,<br />
sebagai seorang kepala keluarga: ia selalu siap membantu aku tanpa aku<br />
harus memintanya terlebih dahulu.</p>
<p>Ibu dan ayahku manusia2 penyayang, yang tahu bagaimana menggunakan<br />
bahasa cinta.</p>
<p>Meskipun terkadang-sebagai manusia biasa-kami melakukan kesalahan atau<br />
saling menyakiti hati masing2 dan membuatku lalai menyadari arti<br />
penting mereka, aku berusaha untuk mengingat setiap kata dari tindakan<br />
mereka: setiap kata dari bahasa cinta yang mereka curahkan padaku.</p>
<p>Sudahkah kita menyayangi mereka?</p>
<p>(anonym)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufikr.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufikr.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufikr.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufikr.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufikr.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufikr.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufikr.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufikr.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufikr.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufikr.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufikr.wordpress.com&blog=630423&post=59&subd=taufikr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufikr.wordpress.com/2009/06/28/bahasa-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3382ef7a3c8b41e8fbf1f1b8dd4268d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taufikr</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>