BAHASA CINTA

Ibuku bukanlah orang yang berpendidikan tinggi, atau orang yang
menguasai banyak hal dan berbicara dalam banyak bahasa. Itu menurutku,
tidak penting. Sebab ada satu hal yang membuat ia menjadi sangat
istimewa, satu hal yang sering lalai ku sadari: ia menguasai bahasa
cinta.

Tetapi itu tidak berarti ibuku berbicara tentang cinta padaku secara
verbal. Ibuku juga tak pernah secara langsung menyatakan bahwa ia
sayang padaku atau ia sungguh2 mencintai aku. Dan ku kira, ini pasti
dikarenakan latar belakang budaya timur yang tidak lazim mengenal
pengungkapan perasaan secara verbal.

Tetapi ketika ia dengan segera menyiapkan sepiring nasi ketika ia tahu
aku hendak makan dan itu ia lakukan tanpa menanti permintaan atau
persetujuan dariku (dan jujur saja, kadang2 ini membuatku risih karena
aku merasa diperlakukan seperti anak kecil). Atau setiap pagi ia
bangun paling awal untuk menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga,
menyiapkan dan membawakan makanan kecil ketika aku sedang asyik
menonton tv, aku tahu, ia sedang berbicara bahasa cinta melalui itu
semua. Ia sedang berbicara padaku tentang kepeduliannya, tentang cinta
dan rasa sayangnya padaku.

Akan halnya ayahku, tidak berbeda jauh. Meskipun harus ku akui
terkadang aku merasa benci setengah mati terhadapnya, terhadap
kekeraskepalaannya, kecenderungannya untuk mencari kambing hitam dan
ketidaksportifannya, aku tahu, ia pun menguasai bahasa cinta pula.

Ia memang tidak pernah menyiapkan sarapan atau menyediakan nasi
untukku, tetapi ia menunjukkan rasa cintanya sebagai seorang ayah,
sebagai seorang kepala keluarga: ia selalu siap membantu aku tanpa aku
harus memintanya terlebih dahulu.

Ibu dan ayahku manusia2 penyayang, yang tahu bagaimana menggunakan
bahasa cinta.

Meskipun terkadang-sebagai manusia biasa-kami melakukan kesalahan atau
saling menyakiti hati masing2 dan membuatku lalai menyadari arti
penting mereka, aku berusaha untuk mengingat setiap kata dari tindakan
mereka: setiap kata dari bahasa cinta yang mereka curahkan padaku.

Sudahkah kita menyayangi mereka?

(anonym)

4 thoughts on “BAHASA CINTA

  1. Perasaan, aku ‘cinta’ deh sama Kang Opik ini. Diterima nggak, Kang? Kalau kata Syekh Junaid, “Cinta antara dua belumlah benar. Hingga mereka mampu saling menyapa, duhai Engkau – Aku.” Wah, masih berat euy.. Kumaha nya’, Kang?😉

  2. diterima🙂, cinta sendiri kan asalnya dari sifat Ar-Rahman, Ar-Rahiimnya Allah, cinta ada tingkatannya juga,
    Cinta karena satu keimanan, karena kita berasal dari satu cahaya,
    (Nafsul wahidah),
    Cintanya Allah mendahului cinta kita, maka mohonlah cinta kepada-Nya.
    (ya sama sy jg lg belajar🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s