Islam Ritual

SEJAK dekade 1980-an, saya sering merasa terhibur oleh banyak informasi tentang Muslim di Indonesia, meskipun sering pula menimbulkan tanda tanya. Konon, telah terjadi peningkatan gairah beragama masyarakat Muslim. Menurut sebagian pendapat, ini merupakan keharusan sejarah.

Sementara sebagian lainnya, dengan berharap pada efek hukum perputaran sejarah, menyebut sebagai romantisisme sejarah masa lalu. Berbagai analisis hadir dalam nuansa yang penuh optimisme. Isu kebangkitan Islam pun kemudian disambut dengan gempita.

Awal 1980-an, fenomena jilbab menandai gairah baru kehidupan masyarakat Muslim. Kampus-kampus perguruan tinggi mulai diwarnai pemandangan keislaman yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kontroversi penggunaan jilbab di lingkungan sekolah non-pesantren seolah menjadi kendaraan yang dapat mempercepat sosialisasi jilbab ke seluruh lapisan masyarakat. Bahkan buku-buku tentang Islam, menurut salah satu survei saat itu, meningkat bersamaan dengan munculnya gairah tersebut.

Yang lebih menarik lagi, fenomena itu semakin tampak menjadi warna lapisan menengah sosial di Indonesia. Kerumunan ibu-ibu yang biasa mendatangi pengajian rutin di desa-desa, sejak saat itu mulai merambah kalangan menengah. Pengajian eksekutif di kantor-kantor, penyelenggaraan shalat jum’at dan tarawih di hotel-hotel berbintang kemudian menjadi fakta yang dapat menggenapkan suasana. Masjid-masjid kampus hidup memberikan spirit baru dunia kemahasiswaan, dengan tetap memelihara kedekatannya dengan kalangan pelajar dan lapisan masyarakat pada umumnya.

Jika sebelumnya Muslim sering diidentifikasi dengan warna-warna desa yang mencitrakan tradisionalisme kehidupan, kini Islam berubah menjadi agama kota. Agama yang menjadi identitas kelas menengah. Agama yang menjadikan komunitas para pemeluknya sebagai individu dan masyarakat maju. Anjuran Nabi untuk saling menyapa dengan ucapan “salam” pun kemudian menjadi budaya baru kehidupan kota. Jadi, pakaian dan ucapan telah mencitrakan simbol keislaman yang semakin kental menjadi “gaya hidup” hampir semua lapisan sosial.

Bukan hanya itu. Dalam bidang seni budaya, lagu-lagu bernuansa religius semakin digemari usia remaja. Padahal, sebelumnya, mereka lebih tertarik pada lagu-lagu yang mencerminkan budaya dan identitas masyarakat Barat. Muncullah nasyid yang kemudian banyak digemari kaula muda Muslim. Mereka seolah menemukan identitas baru yang tetap mampu memelihara citra remaja kota. Ada kecenderungan baru untuk menikmati lirik-lirik lagu yang memiliki muatan pesan-pesan Islami.

Riak-riak itu tampaknya terus berjalan menembus waktu. Pada pentas berikutnya, ia terbukti sanggup berubah menjadi gelombang besar. Simbol-simbol keislaman formal semakin banyak dianut oleh berbagai lapisan dan kalangan, sekaligus menjadi warna yang semakin terbuka hampir pada semua peristiwa. Di sela-sela kerumunan orang para pecandu sepak bola, misalnya, tampak di layar televisi perempuan berjilbab; dalam acara kuis yang banyak digemari masyarakat, jilbab selalu hadir di antara mereka; dan hampir dalam semua peristiwa yang melibatkan banyak orang, jilbab yang diidentifikasi sebagai bagian dari simbol dan identitas pemeluk Islam, selalu tampak menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan.

UNTUK sementara waktu saya sendiri hampir tidak peduli dengan berbagai komentar yang kurang membahagiakan. Bagi saya, identitas formal itu tetap memiliki arti penting. Jika gelombang itu terus berlanjut, tidak tertutup kemungkinan bila kemudian berubah menjadi budaya material yang dapat dibanggakan. Budaya orang Islam yang tetap menarik perhatian banyak kalangan. Identitas sosial yang memiliki nuansa religius, tapi tetap relevan dengan tuntutan zaman.

Secara kuantitatif, lapisan baru komunitas Muslim ini terus bertambah. Pilihan-pilihan aktivitas keagamaan yang tetap memenuhi selera sosial mereka juga semakin kaya. Pada musim libur sekolah, ziarah ke tanah suci kini menjadi pilihan pengisi luang. Saya kira, ini bukan pelarian. Ini adalah pilihan yang sengaja mereka ambil. Kebutuhan akan konsumsi spiritual mungkin telah menjadi prioritas di luar aktivitas rutin yang sering membuat kehidupan semakin jenuh dan membosankan. Pendek kata, fenomena ini sangat membahagiakan.

Tapi, seperti itulah kehidupan. Mata kita sering tidak sanggup menembus hakikat di balik fakta. Mungkin kita sulit percaya, jika di balik fenomena simbolik itu masih menyisakan makna artifisial yang memprihatinkan. Konon lagi, menurut sahabat perempuan saya yang setiap hari bekerja, semua wanita di tempat kerjanya kini telah berjilbab. Kenyataan yang menggembirakan. Tapi, ada yang tidak mudah dipahami. Kebanyakan di antara mereka selalu dalam kondisi haid (datang bulan). Otomatis mereka tidak bisa melaksanakan kewajiban shalat.

Sama halnya dengan kepadatan orang melaksanakan shalat Sunat Id hari lebaran, tapi tidak sempat melaksanakan shalat wajib lima kali sehari semalam. Banyak orang sanggup berkali-kali berhaji, tapi tak kuasa mengeluarkan sebagian hartanya untuk kaum dhuafa. Atau tega melepas kembali jilbab seusai ramai-tamai tarawih berjamaah di sela-sela kesibuikan ramadhan. Dan melepas kembali busana muslimah setelah tuntas acaratalkshow atau main sinetron di televisi.

Mungkin, inilah kuantitas umat yang diilustrasikan Nabi sebagai “buih”. Menggembirakan, tapi hanya di permukaan. Atau, paling untung, dia telah berislam, tapi baru pada tataran ritual, dan belum menyentuh dimensi sosial.*


warnaislam.com

2 thoughts on “Islam Ritual

  1. Walah,,, Islam ‘ritual’ ya, Kang? Emm, iya juga ya; banyak iyanya daripada nggak iyanya..😉 Mungkin ini yang membuat seorang teman saya kapan waktu lalu komplain. Katanya, “Memang berjilbab, tapinya telanjang.” Waduh…

    Itulah makanya waktu istri saya bilang hendak mengenakan jilbab, saya mengingatkan, “Jilbabkan dulu hatimu, Sayang. Setelah itu, barulah kepalanya.”

    Begitu, Kang. Punten ya..😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s