Mengintegrasikan Sumber-Sumber Belajar

Ternyata istri saya tidak sendirian, ada banyak ibu muda lain yang punya niat yang sama atas anak-anaknya. Ada di antaranya yang meminta pendapat saya sebelum mengeksekusi niatnya. Berikut ini adalah jawaban saya, kepada istri saya, kepada ibu muda lain itu, dan kepada siapapun yang bisa saja menghadapi masalah serupa.

Saya tidak berani merekomendasikan anak-anak anda untuk menonton pertunjukan itu. Saya lebih setuju ibu membinanya untuk banyak membaca, olahraga dan terjun dalam pengalaman langsung, dalam aktivitas, bersama anak-anak muslim dan masyarakat pada umumnya.

Rosululloh saw membasiskan pembangunan masyarakat dari membaca, bukan menonton. Pun, bacaan-bacaan tersebut harus terintegrasi dan mengacu pada sumber belajar kita yang utama, yakni Al Qur-an dan Hadist sahih. Sekiranya berlawanan atau melalaikan, jangan diambil. Tapi,  jika tidak bertentangan – yang berarti menunjang akidah dan iman islam, atau sekurang-kurangnya tidak melalaikan kita dari mengingat Alloh, tidak melalaikan kita dari mengingat akar sosial dan kultural kita,  dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak ibu, ambillah untuk dibaca mereka.

Integrasi sumber-sumber belajar adalah wisdom atau hikmah dari hidup bertauhid, di mana sumber-sumber belajar kita satu sama lain saling menunjang. Inilah belajar dan hidup yang terintegrasi, atau belajar secara bertauhid.

Sumber-sumber belajar tersebut meliputi: orang (teman, guru, orangtua, dl), media massa (koran, majalah, buku-buku, radio, televisi, dll). Apakah sumber-sumber ini saling menunjang dalam hidup kita, mari kita evaluasi.

Apakah koran yang kita langgan, secara ideologis dan historis, membela dan menguatkan islam? Atau justru berada di pihak, yang secara diam-diam atau mungkin malah terang-terangan, berhadap-hadapan dengan islam – yang dengan demikian menyakiti umat islam? Juga majalah, buku-buku, radio yang kita dengar, mata acara televisi yang kita tonton, dan lain-lain.

Lihat juga siapa yang kita temani atau akrabi, apakah ia atau mereka, pilihan yang tepat yang dapat membuat akidah dan iman islam kita terjaga? Adakah itikad bersama untuk membangun iklim tawaashoubil haqqi dan tawashoubil sobr (saling mengingatkan dengan kebenaran dan menetapi kesabaran)? Atau justru saling menjerumuskan?

Apakah membuat kita menjadi lebih mencintai saudara muslim dan memberi rahmat, kasih sayang, pada seisi alam semesta? Atau malah mendekatkan diri kita pada penentang-penentang Alloh?

Mengajak kita hidup lebih bersih dan mulia? Atau mengantar kita mengakrabi barang-barang dan kegiatan-kegiatan yang syubat, bahkan haram?

Mengajak kita menggunakan dunia untuk memperjuangkan akhirat? Atau cuma melangutkan kita dengan kesenangan-kesenangan semu dan sesaat yang kering dari nilai ukhrowi?

Lingkungan adalah variabel yang menentukan pembentukan kepribadian manusia. Jauh sebelum penelitian-penelitian sampai kepada tesa ini, Rosululloh saw sudah mengisyaratkan pentingnya lingkungan. Beliau berkata, sebagaimana diriwayatkan Ahmad dan At-Tirmidzi, bahwa agama seseorang – termasuk kualitas beragamanya, bergantung pada siapa yang ia pergauli, maka masing-masing muslim diminta untuk mencermati siapa yang diakrabi.

Lihat juga komunitas kita, tempat kita bercengkerama, bahkan apa yg kita makan: terjaminkah kehalalannya? Atau tanpa sadar kita masih menyantap makanan-makanan yang syubat?

Singkatnya, pemilihan atau seleksi atas semua variabel lingkungan yang berinteraksi dengan hidup harus kita dasarkan pada rujukan puncak,  yakni: al-Qur’an dan Hadist sahih. Inilah acuan dasar kita untuk mengenali anasir-anasir yang akan terus ada dan berlawanan sepanjang hidup manusia: tauhid>

Lawan dari sumber-sumber belajar yang terintegrasi adalah sumber-sumber belajar yang acak, tidak menunjukkan struktur dan kesatuan, tidak saling menunjang, centang-perenang, bahkan saling merubuhkan – karena dipilih berdasarkan pedoman yang kacau, atau memang tidak berpedoman.

Kondisi belajar demikian ini akan menghasilkan manusia dengan ‘kekacauan ideologi’, di mana banyak konsep-konsep ‘tampak benar’ berkecamuk di benaknya, yang cenderung saling berbenturan.

Pribadi yang mengalami kekacauan ideologi, niscaya adalah pribadi yang ‘pecah’, gamang dan bingung dalam mengenali kebenaran. Maka ketahuilah, gamang adalah karakter yang menguntungkan musuh-musuh islam. Mereka itu, tidak perlu membuat kita secara formal murtad, cukup membuat muslim itu gamang, itu sudah setengah lebih dari kemenangan.

Mengapa? Sebab kegamangan membedakan kebenaran dari anasir kebathilan akan menumbuhkan sifat: pesimis, ragu-ragu, pengecut, apatis, oportunis, tidak peka, dalam mengidentifikasi dan mengambil sikap terhadap kebathilan. Jika seorang muslim sudah dihinggapi sifat-sifat demikian ini, maka lebih mudahlah ia dipalingkan dari islam. Bahkan, sekalipun secara formal ia masih muslim, boleh jadi telah mulai tanggallah islam dari jiwanya.

Lihatlah contoh segar baru-baru ini, ketika undang-undang anti pornografi dirancang, tidakkah kita mengenali adanya pihak-pihak, media-media, yang dengan gencar menekuk-nekuk kebenaran dengan keindahan retorika, bahasa keminter, untuk membuat kita (muslim), menjadi apatis, gamang, ambigu, dan membuat kebenaran tampak begitu rumitnya?

Lihatlah hasilnya. Banyak saudara-saudara muslim yang menjadi bersikap demikian itu, bahkan tidak sedikit yang mengambil sikap berseberangan (kontra) terhadap undang-undang tersebut.

Itulah yang dikerjakan musuh-musuh islam melalui berbagai media yang menjadi komprador mereka: membentuk pribadi-pribadi yang gamang pada kebenaran. Inilah yang dalam islam disebut ‘perang pemikiran’ dengan media dan berbagai bentuk sumber belajar sebagai instrumennya.

Semoga Alloh swt memberi kita kemampuan untuk mengenali kebenaran, dan kemampuan untuk memperjuangkannya. Dan semoga Alloh swt memberi kita kemampuan mengenali kebathilan, dan kemampuan untuk melawannya. Barokalloohu fiik. Wassalamu’alaikum. (Ahmad Antawirya).*


warnaislam.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s